Wednesday, April 6, 2016

Melik atau memelik




Ditengah cercaan hinaan, tentang Hindu utamanya segala sesuatu yang dilakukan/diyakini oleh warga Hindu khususnya umat Hindu Bali ( ada segelintir warga bangsa menganggap bahwa keyakinan penganut Hindu Bali itu adalah keyakinan para orang-orang kafir),  kembali ceritra tentang budaya Bali diangkat ke dunia maya mumpung kita tengah ada di era mengglobalnya internet, dan lebih didasari oleh suatu perasaan bahwa sedemikian indahnya berbagi itu. Menceritrakan sesuatu yang menyangkut agama (khususnya agama Hindu Bali/yang mereka anggap kafir) tentulah dalam ceritra sedikit tidaknya ada hal-hal yang bernuansa kasat mata. Agama itu nyatanya berupa suatu keyakinan, menuntut pemeluknya yakin seyakin-yakinnya bahwa yang tidak nampak itu ada walau sejatinya memang ada tapi tanpa bukti pisik ( contohnya Tuhan YME).

Berceritra tentang suatu daerah (Bali) tentu ada kata-kata yang tidak lazim, misalnya tentang penyebutan suatu keadaan atau kejadian (mohon dimaklumi). Dalam ajaran Hindu di jelaskan, bahwa seseorang itu diwajibkan untuk menikah (menjalani masa grahasta asrama) demi adanya keturunan sebagai generasi penerus. Jika dalam mendapatkan keturunan, si anak dianggap melik/memelik (Melik adalah suatu anugrah pada saat kelahiran anak yang teramat besar dari Hyang Widhi. Dalam Lontar Purwa Gama disebutkan bahwa Anak yang dianggap melik diyakini mempunyai rerajahan/ sejenis gambar sejak lahir yang dapat menimbulkan kematian dalam artian umur pendek/cendek tuwuh (bhs.Bali), sehingga diperlukan upacara pebayuhan otonan melik pada si anak demi ternetralisirnya kekuatan tersebut, dan selalu ingat melaksanakan yang namanya suci laksana untuk mempertahankan dan meningkatkan kesucian diri.  Rerajahan yang terdapat pada orang melik biasanya terdapat di telapak tangan, di jidat/kening/tengahing lelata  atau di bagian tubuh tertentu selain itu juga bisa terdapat tanda senjata, terkadang terdapat salah satu dari sembilan senjata pengider bhuwana tergantung tugas yang diemban sang anak lahir ke dunia, dengan rerajahan senjata para dewa antara lain berupa gambar : bajra, cakra, gada, dan yang lainnya. Adapun semua gambar/rerajahan yang ada pada si orang melik itu tidaklah dengan serta merta dapat dilihat oleh mata telanjang biasa sifatnya kasat mata. Datangilah orang pintar sejenis rohaniawan/ balian metuwun untuk dapat tahu yang sebenarnya, tentunya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Lumrahnya mereka-mereka yang memelik itu disenangi oleh para mahluk halus  dari yang bersifat negatif hingga yang bersifat postif  (kalangan para dewa dewi). Mereka yang memelik itu umumnya dapat dilihat dari aneka tanda yang ada di tubuhnya, misalnya :  1. Ketika lahir, badannya dililit tali plasenta beberapa kali putaran ( Kelahiran seperti ini sangat jarang terjadi, dan kalau ada, kebanyakan mati beberapa saat sebelum keluar dari rahim ibunya)
2. Ketika tumbuh berumur +/- 2 tahun, rambut di kepalanya kusut (sempuut). Walau digundul, tumbuhnya sempuut lagi. 3. Kepalanya mempunyai pusaran (usehan) tiga atau lebih.4. Lidahnya poleng (ada warna hitam/coklat).5. Ada tahi lalat/kadengan (bhs.Bali) besar  di kemaluannya (maaf porno)

Yang banyak terjadi, jika  mereka yang memelik tersebut tidak mendapat banten penebusan maka biasanya orang yang memelik sesuai dengan kelahirannya ada yang diambil dalam artian meninggal  pada saat baru bisa berjalan, saat-saat masanya ABG (orang Bali bilang “mare menek bajang”),  ketika baru menikah dalam upacara pawiwahan, dan ada juga pada saat baru mempunyai anak. Dengan pebayuhan melik akan dinetralisir kekurangan yang ada dalam dirinya (menghilangkan apes pengaruh melik). Supaya semua kekuatan bersinergi, agar dapat keseimbangan antara Bhuana Agung/ alam semesta  dan Bhuana Alit/ badan kasar orang yang memelik ( karena sesuai keyakinan Hindu zat pembentuk alam maya pada ini sama dengan zat pembentuk tubuh manusia ). Untuk diketahui, pada zamannya dulu di tanah Bali ini pernah ada seorang raja yang dianggap melik bertahta  (Saat itu di tahun 1599 masehi,  hasil perkawinan (tidak resmi) Dalem Seganing dengan Si Luh Pasek Panji. Ketika lahir, tubuh bayi itu seluruhnya berwarna merah darah, dan di malam hari dari ubun-ubunnya keluar sinar terang berwarna biru. Oleh karena itu bayi itu dinamakan Ki Barak Panji. Ternyata setelah besar beliau sangat sakti mandara guna sehingga berhasil menjadi Raja Buleleng pertama,  dengan gelar I Gusti Anglurah Panji Sakti )

Sumber info/bacaan : sebuah status teman di Sosmed FB.

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini