Flickr

“Kinari-kinari”, namanya







Satu fakta lebih berarti dari seribu analogi, itu yang acap terdengar di setiap ada pertentangan pendapat, kala mana kesefahaman belum tercapai.  Yang namanya fakta tentu harus   ada bukti fisiknya misalnya : hitam diatas putih, atau berbentuk suatu yang nyata dalam penglihatan mata telanjang. Demikianlah juga yang terjadi, jika suatu jalan keimanan akan keberadaanNya dapat dikatakan berbudaya tinggi dan jat-jati selalu tertuju kepadaNya. Tidak berlebihan, diantara kepercayaan tentangNya, Hindu itu tertua dan dari sejak nguni juga telah berkeyakinan tebal akan keberadaan Yang Maha Kuasa, riil ada bukti kokoh berupa aneka jenis bangunan-bangunan sebagai tempat pemujaan. Dari sejak era batu besar lalu hingga di zaman batu akiknya NKRI, Hindu itu tetap eksis toleran.

Presiden RI, Joko Widodo hadir saat bulan mati sasih kesanga saka 1937 di Prambanan

Bukan hal yang rahasia, kalau di zamannya dulu tanah Jawi itu pernah diperintah oleh sekuturunan/ sebuah dinasti yang berbudaya tinggi dan ketaqwaan akanNya tiada terbantahkan. Kita yang hidup di tahun masehi yang memasuki hitungan ribuan, masih bisa memastikan dinasti itu sedemikian taatnya memeluk keyakinan/agama, ada aneka candi besar dan kecil kita warisi.  Sebut saja candi yang lumayan populer dan juga lumayan besar. Prambanan (Loro Jonggrang), candi ini juga seperti candi-candi lainnya di hiasi banyak jenis pahatan/aneka relief pada dinding-dindingnya. Semua pahatan itu mengisyaratkan bahwa di zaman dinasti itu tumbuh orang-orang berbudaya tinggi. Dasar kaki candi Loro Jonggrang dikelilingi selasar yang berbataskan pagar langkah. Di dinding langkah bagian dalam terpahat relief ceritra Ramayana, membacanya searah jarum jam / pradaksina. Sedangkan dinding candi bagian luar yang terpahat adalah gambar mahluk bertubuh burung berkepala manusia para arkeolog menamakan  “kinari-kinari) dan ada  juga pahatan kepala raksasa yang berlidah sepasang mitologi (kalamakara), tidak hanya berjenis itu, pahatan yang berupa aneka mahluk surgawi juga ada.  Dinasti yang berbudaya tinggi itu, tiada lain adalah trah/keturunan Rakai Pikatan dan Rakai Balitung ( dinasti Sanjaya). Hingga kini, tempat pemujaannya diwarisi oleh para penganut Hindu di tanah Jawa, Candi Loro Jonggrang ( percandian Prambanan ).-



edisi : penanggal ping pisan sasih kedasa saka 1938

0 Response to "“Kinari-kinari”, namanya"

Post a Comment

Baca juga yang ini