Tuesday, December 8, 2015

Gamelannya Due Kenyong




Tidaklah salah kiranya kalau Bali itu dikatakan pulau yang berhawa mistis bernuansa relegius murni, karena apa? Bisa dikatakan berhawa mistis dan  ada unsur relegiusnya tentu harus ada juga faktor sejenis keyakinan yang meyakini bahwa ada suatu energi diluar kemampuan manusia. Yang dimaksudkan di sini adalah, hampir semua kegiatan yang berjenis tradisi yang di jaga kelesatariannya  dalam hitungan ratusan tahun di Bali memeiliki maksud agar Bali aman  dan juga ajeg ( ngerahajengan jagat ). Mungkin karena napas-napas Hinduismelah yang menyebabkan semua warna/jenis tradisi masyarakat Bali lestari hingga NKRI memasuki era reformasi yang kebablasan. Riil, ada perang pandan di Karangasem, dan di Bangli juga ada baris babuang.

contoh : gamelan gambang Bali
contoh : gamelan gambang Bali

Tidaklah salah jika pariwisata di Pulau Bali dikembangkan dengan konsep pariwisata budaya  yakni budaya Hinduisme, salah satu  diantara alasannya adalah semua tradisi-tradisi masyarakat Bali yang di pagelarkan secara rutinitas utamanya yang berjenis tarian/atraksi  pasti diiringi oleh suatu bunyi-bunyian yang bercorak gamelan. Gamelan di Bali itu ragamnya lebih dari tiga macam : Gong, angklung, gambang, joged bumbung, tingklik, gender, dan yang lainnya. Namanya saja daerah tujuan wisata, tentu memiliki kesekian banyak keunikan misalnya di suatu tempat di pulau Bali, Desa Pengotan kabupaten Bangli saban tahun menggelar tradisi baris babuang / perang papah biu yang diiringli dengan tabuh/gamelan gambang yang disebut “due kenyong” dan selonding. Uniknya adalah para penabuh gambangnya harus para teruna/ lelaki yang masih lajang.

Disaban tahun kala bulan penuh/ purnama sasih keenam bertempat di pura Bale Agung Pengotan, Bangli yang namanya perang papah biyu/pelepah pisang (bhs.Bali)  kala malam tiba digelar. Namanya perang, tentu ada yang berperang/beradu, perang yang satu ini juga ada aturan mainnya misalnya di gelar tiga sesi ( sesi pertama yang berperang para jro dulu, sesi kedua dilakoni oleh empat orang kerama  yang punya kedudukan di Bale Agung, sesi terakhir/ketiga dilakoni oleh para pemuda dari seluruh banjar se Desa Pengotan). Aba-aba perang di berikan oleh seorang wasit yang dinamakan Jro Muncuk.Dengan bersenjatakan papah biu/pelepah pisang berukuran 0,5 s.d 1 meter mereka yang berperang saling gebuk, hanya mengenakan kamben/kamen tanpa baju. Namanya saja ritual keagamaan apa lagi dilaksanakan diareal tempat suci jelas memiliki suatu tujuan demi keselamatan/kerahayuan, demikian juga perang papah biu/baris babuang bertujuan untuk keselamatan kita semua (ngerahajengan jagat) tidak hanya sebatas keselamatan warga Desa Pengotan.-

Sumber bacaan : majalah bali post  116.

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini