Sunday, October 7, 2012

Kejamnya PKI di Indonesia tahun 1965 (sejarah bangsa)

Hal 109, 111, dan 112 buku  sejarah SMP dan MTs kls.9, piranti darma kalotama


 Sesungguhnya Gerakan G 30 S/PKI tidak terjadi dalam waktu yang singkat, melainkan lewat perencanaan yang matang jauh hari sebelum tgl 30 September 1965. > Berawal dari kegagalan pada peristiwa Madiun tahun 1948, PKI sesungguhnya terus bergerak namun tidak secara terang-terangan. Dan di tahun seribu sembilan ratus limapuluhan organisasi itu muncul lagi, dan pada saat Pemilihan Umum tahun 1955 keluar sebagai pengumpul suara terbanyak. Sejak saat itulah PKI berencana untuk mengambil alih kekuasaan lewat parlemen. Dalam usaha mencapai tujuan politiknya PKI melakukan berbagai persiapan. Tepat tanggal 30 September 1965 PKI ( dengan tokoh Utamanya D.N Aidit ) melancarkan pembrontakan. Yang menjadi sasaran adalah para pimpinan teras Angkatan Darat kala itu. Biro khusus PKI menghubungi para anggautanya di Angkatan Darat, Udara, Laut, Kepolisian, dan Cakrabirawa sebagai pelaksana pengambilan/penculikan para perwira tinggi Angkatan Darat dari rumahnya masing-masing, baik dalam keadaan hidup / mati.


Pada malam hari di 30 September 1965, Letnan Kolonel Untung, Brigjen Soepardjo, Kolonel Latief, Letkol Heru Atmodjo, Mayor Soedjono, Mayor Gatot Soekrisna, Aidit Syam, dan Omar Dhani berkumpul di Halim Perdana Kusuma. Pada pertemuan malam itu, mereka memutuskan untuk menculik para perwira teras Angkatan Darat. 
 Sebelum subuh tanggal 1 Oktober 1965, mereka yang menamakan dirinya Dewan Revolusi mulai mengerahkan para anggautanya yang terbagi dalam tujuh kelompok, masing-masing dengan sasarannya. Para perwira Angkatan Darat yang menjadi sasaran adalah ;


1.      Letnan Jendral Achmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat), ditembak mati dirumahnya oleh gerombolan yang dipimpin oleh Peltu Mukidjan. Jenazah Achmad Yani dilemparkan ke atas sebuah truk dan di bawa ke lubang buaya
2.      Mayor Jendral MT. Haryono (Deputi Khusus), ditembak mati dirumahnya oleh kelompok gerombolan yang dipimpin oleh Serka Bungkus.
3.      Mayor Jendral Soeprapto (Deputi Pembinaan), diculik hidup-hidup dan dibawa ke lubang buaya oleh pasukan Pleton Kawal  kehormatan Cakrabirawa.
4.      Berigjen DI. Panjaitan (Asisten IV), ditembak mati di rumahnya oleh kelompok gerombolan yang dipimpin oleh Serma Soekardjo./
5.      Mayor Jerdral S. Parman (Asisten I) diculik oleh kelompok pimpinan Serma Satar dan dibawa ke lubang buaya.
6.      Brigjen Soetoyo Siswomihardjo (Direktur Kehakiman/Oditur Jendral TNI Angkatan Darat), diculik oleh kelompok pasukan kawal kehormatan Cakrabirawa.


Jendral AH. Nasution ( Menteri Koordinator Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata) yang sebenarnya merupakan orang pertama sasaran penculikan, berhasil meloloskan diri. Namun putrinya “Ade Irma Suryani Nasution” tertembak dan akhirnya meninggal. Ajudannya “Lettu Pierre Andreas Tendean” diculik, dan di bawa hidup-hidup ke lubang buaya oleh gerombolan yang dipimpin oleh Pelda Djahurub. Dalam peristiwa itu juga tewas Brigadir Polisi KS. Tubun yang mengadakan perlawanan ketika terjadi penculikan.


Di lubang buaya, mereka yang masih hidup disiksa dengan berbagai cara oleh Gerwani lalu diberondong dengan senjata api. Jenazah para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah lubang sumur tua lalu ditimbuni dengan tanah dan sampah.
Pada saat bersamaan di Jawa Tengah terjadi pula pembantaian terhadap Komandan Korem 072, Kolonel Katamso dan kepala stafnya Letnan Kolonel Soegiyono, di desa Kentungan. Dua Batalyon Raider menduduki Lapangan Merdeka di jantung Kota Jakarta, mereka menguasai Istana Presiden, gedung RRI, dan pusat telekomunikasi.

No comments:

Post a Comment