Tuesday, September 18, 2012

Legenda Galungan

Pada zaman dahulu di Bali berkuasa seorang raja yang amat sakti bernama Mayadenawa, merasa diri sakti iapun amat sombong rakyatpun ditekan tidak diperkenankan melaksanakan upacara persembahan. Kayangan atau pura dirusak, rakyat diancam kalau masih melakukan pemujaan kepada Dewata/ Sanghyang widhi/ Tuhan. Hal inilah yang mendorong Pandhita Mpu Kulputih melakukan yoga semadhi di Pura Besakih memohon petunjuk Hyang Widhi, akhirnya beliau mendapat petunjuk dari Bhatara Maha Dewa agar meminta pertolongan ke Jambudwipa. Pertolongan dari Sorgapun datang dibawah pimpinan Dewa Indra dengan pasukan yang kuat bersenjatakan lengkap, menggempur Mayadenawa dari segala penjuru. Pasukan sayap kanan dipimpin oleh Citrasena dan Citragada, pasukan sayap kiri dipimpin oleh Sang Jayantaka sedangkan pasukan induk dipimpin oleh Bhatara Indra, selain itu pasukan juga dipersiapkan dipimpin oleh Gandarwa. Untuk menyelidiki kelemahan Mayadenawa dikirimlah Bhagawan Narada. Dilain pihak Mayadenawa sendiri telah mengetahui kedatangan pasukan Bhatara Indra, maka segala kekuatannya dipersiapkan dengan matang untuk menghadang serangan dari pasukan Bhatara Indra.


Tibalah saatnya pasukan Bhatara Indra menyerang keraton Mayadenawa, pasukannyapun mengadakan perlawanan dengan hebatnya sehingga banyak yang mengalami korban dan banyak yang melarikan diri meninggalkan raja Mayadenawa, tinggalah sang raja bersama patihnya yang sakti bernama Kala Wong. Oleh karena matahari telah terbenam pertempuranpun dihentikan. Karena kelelahan pasukan Bhatara Indrapun tidur dengan nyenyak, saat itulah kesempatan Mayadenawa untuk meracuni air sungai dengan cetik, sedangkan Mayadenawa meninggalkan tempat itu dengan berjalan memiringkan telapak kakinya agar tidak diketahui. Tempat itu akhirnya disebut Tampaksiring. Keesokan harinya pasukan Bhatara Indra bangun dari tempat tidur lalu mandi dan minum, alangkah terkejutnya Bhatara Indra banyak pasukannya yang sakit dan meninggal. Melihat keadaan yang seperti itu Bhatara Indra segera beryoga, menciptakan sumber air yang dapat dipakai obat yang disebut dengan Tirtha Empul, dengan tirta inilah pasukan Bhatara Indra dapat disembuhkan. Aliran tirtha empul ini mengalir menjadi sungai yang disebut dengan Tukad Pakerisan. Kembali pasukan Bhatara Indra mengejar pelarian Mayadenawa dan ia mengetahuinya lalu merubah dirinya menjadi manukraya, ditempat itu kemudian diberi nama Manukaya. Pasukan Bhatara Indrapun kembali mengejar Mayadenawa dan Mayadenawa merubah dirinya menjadi buah timbul, tempat itu kini  bernama Desa Timbul, lalu menjadi busung (tempat itu menjadi Desa Blusung), lagi menjadi susuh (tempat itu menjadi Desa Penyusuhan), menjadi Bidadari tempat itu disebut dengan Kedewatan, namun Bhatara Indra tidak bisa dikelabaui dan terus mengejarnya, dalam keadaan kepepet Mayadenawa dan Patih Kala Wong merubah diri menjadi batu padas, diketahui juga oleh Bhatara Indra batu padas itupun dihujani dengan panah yang mengakibatkan Mayadenawa dan Patihnya Kala Wong menemui ajalnya,darahnya terus mengalir menganak sungai jadilah Sungai Petanu. “Kematian Mayadenawa merupakan suatu kemenangan yang disebut dengan Galungan”  >  Legenda Galungan.


Tentang Galungan ;

 Kata Galungan berasal dari Bahasa Jawa Kuno, yang artinya menang atau beruntung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan yang berarti menang. Di Jawa wuku yang ke 11 disebut dengan wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang ke 11 disebut wuku Dungulan. Namanya yang berbeda tetapi artinya sama. Mengenai asal usul galungan memang agak sulit memastikannya, tapi dalam lontar purana Bali Dwipa, disebutkan bahwa Galungan pertama kali dirayakan pada Hari Purnama Kapat, Buda Keliwon Dungulan tahun 804 saka atau tahun 882 masehi, sejak itu Galungan terus dirayakan oleh Umat Hindu di Bali secara meriah.  Setelah Galungan dirayakan selama kurang lebih 3 abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya, pada tahun 1103 saka perayaan Galungan dihentikan. Itu terjadi ketika raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan dan raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tiada henti-hentinya, dan umur pejabat kerajaan konon menjadi pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat, ia digantikan oleh Sri Jaya Kesunu pada tahun 1126 saka, barulah Galungan dirayakan kembali dengan khidmat.

No comments:

Post a Comment