Thursday, August 11, 2016

Hey Gees, sejatinya kita semua sama




Berawal dari kenyataan, bahwasanya kita di dunia ini berbanyak orang, berbanyak model atau berbanyak bangsa, bahkan berbanyak keyakinan (baca agama). Khususnya tentang keyakinan itu sedemikian banyak jua versinya atau kelompoknya, tergantung dari sisi mana para cendekiawan menalarnya, atau dari sisi mana para ahli fisafat tenar memporsikannya. Contoh riil yang telah ada misalnya keyakinan itu dibedakan antara agama langit ( Yahudi, Kristen, dan Islam), dan agama bumi ( Hindu, Budha). Serta di pihak lain, khusus tentang keyakinan akan adaNya yang bernama Hindu Itu, ada yang menyimpulkan bahwasanya Hindu itu bukanlah agama dalam arti biasa tapi merupakan  satu bidang keyakinan dan kebudayaan yang sedemikian tegarnya bertahan lestari dari sekitar seribu lima ratus tahun sebelum masehi hingga zaman serba instan ini. Dari era ke era yang disebut Hindu itu berkembang dan berubah (evolusi) yang mana menyebabkan keyakinan yang satu ini punya aneka jenis ciri, yang oleh para penganutnya acap diutamakan tapi kerap juga tidak diindahkan sama sekali ( Agama/keyakinan Hindu itu merupakan satu proses antropologis).

Pada jajaran penganut Hindu, beranggapan seluruh umat manusia memiliki atma yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya, seluruh dunia adalah keluarga besar, karena sesuai keyakinan Hindu atma pada setiap manusia adalah sama, sama-sama merupakan bagianNya. Yang lumrah terjadi, manusia acap menganggap sesamanya berbeda hanya beda warna kulit. Sungguh sejatinya tiada perlu memandang kesekian jenis perbedaan itu (ras, kasta,keyakinan/agama, atau yang lainnya) jika ingin tentram maya pada ini. Ada seorang cendekiawan Hindu (DR.Somvir), mengibaratkan jika seseorang melihat pohon manga dan leci di tengah hutan, dari jarak dekat seseorang akan melihat perbedaan dari kedua pohon itu dengan amat jelas. Namun setelah meninggalkan/menjauh dari hutan itu, apa yang terjadi?. Yang bersangkutan hanya menyaksikan sebidang warna hijau semata dan tidak terlihat lagi perbedaan pohon mangga dan leci tersebut. Tiada terpungkiri, bagi sejumlah manusia yang berhati dangkal akan selalu menemukan banyak perbedaan pada sesamanya tanpa melihat adanya persamaan yang di sebut atma itu. Maka dari itu marilah kita bersahabat, dan menyelesaikan semua masalah secara kekeluargaan, karena seorang sahabat itu dia yang menjauhkan kita dari dosa, senantiasa memikirkan kebaikan, pandai menyembunyikan rahasia, selalu menceritrakan kebaikan, melindungi dari bahaya, serta menolong kala mana kita dalam kesulitan.

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini