Friday, September 21, 2012

Wangsa Sanjaya di Bali

Sumber  > buku sejarah dan babad pratisenatana bandesa manik mas.


Kerajaan Mataram melebarkan kekuasaannya sampai di Jawa Timur dan Bali. Di Jatim dikenal sebuah kerajaan  yang bernama Kanjuruhan, yang dikekalkan dalam prasasti Dinoyo tahun 760 Masehi. Di Bali kerajaan Singamandawa yang dikekalkan dalam prasasti Sikawana A tahun 882 masehi. Kemungkinan raja-raja dari kerajaan ini adalah dari keluarga Sanjaya Sanjayawamsa. Karena isi prasasti-prasasti Canggal 732 masehi, Prasasti Dinoyo 760 masehi, dan prasasti Sukawana 882 masehi, memiliki persamaan isi terutama menyangkut bidang keagamaan yang dianut.
Kerajaan Bali tertua yang bernama Singamandawa itu, dikekalkan dalam lebih dari 15 buah prasasti yang berangka tahun diantara 804 sampai dengan 888 saka. Satu-satunya nama raja yang disebut-sebut dalam prasasti yang dikeluarkan di Singamandawa itu adalah Sang Ratu Ugrasena. Boleh jadi Sang Ratu Ugrasena ini adalah keturunan Raja Sanjaya dari Ksatrya Kalingga. Bersama dengan masa pemerintahan Sang Ratu Ugrasena di Singamandawa, di Bali juga muncul sebuah kerajaan yang dibentuk oleh Sri Kesari Warmadewa, yang dikekalkan dalam prasasti Blanjong Sanur 835 Saka. Menurut Raja Purana beliau mendirikan Kerajaan Singamandawa yang berpusat di Besakih.
Rupanya munculnya kerajaan dari keluarga Warmadewa di Bali, adalah tidak terlepas dari persaingan antara keluarga Sanjaya atau Kalingga dengan keluarga raja-raja warma, semenjak di Jawa Barat pada abad ke 6 dimana keluarga Warma juga mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Di Bali kerajaan  Singamandawa terdesak, hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng. Sedangkan Warmadewa telah menguasai wilayah yang amat luas. Selain Sawal dan Gurun juga menguasai Bali dengan batas utaranya sampai di Manukaya Tampaksiring dan Malet Kayuambwa. Ini membuktikan dengan adanya prasasti pada pahatan batu yang ada di Penataran Gege Malet dan Pura Panempaan Manukaya.
Setelah tahun saka 888 lalu, tidak terdengar lagi nama raja-raja Singamandawa. Prasasti-prasasti yang ada semuanya dikeluarkan oleh raja-raja Warmadewa. Ini berarti kerajaan Singamandawa telah dikalahkan. Mungkin dengan jalan damai, karena salah seorang ratu Warmadewa setelah masa Ugrasena sangat menghormati Sang Ratu Ungrasena. Hal ini diuraikan dalam prasasti Kintamani A, yang menyebutkan > “...........Sang Ratu Siddha dewata Sang Lumah di Air Madatu...............”. Sang ratu yang dihormati oleh Tabenendra Warmadewa ini, menurut Goris adalah Ratu Ungrasena.

Setelah tahun 888 saka, kerajaan Singamandawa tidak ada lagi. Lalu kemana keluarga raja Ugrasena itu?. Menurut tradisi dari kerajaan-kerajaan kuno, bilamana ada kerajaan yang dikalahkan, maka keluarga raja tahlukan diserahi tugas dalam pemerintahannya. Biasanya menjadi patih, atau pejabat kerajaan lainnya. Apalagi penahlukannya secara damai. Bila pendapat ini benar adanya, maka keturunan Sang Ratu Ugrasena nantinya menjadi Arya Bali, yang ada di zaman pemerintahan Sri Tapolung (Astasura Ratnabhumi Banten) dari keluarga Warmadewa, menduduki jabatan menteri-menteri kerajaan. Kendatipun tidak semuanya. Para menteri Sri Tapolung yang dikenal kemudian sebagai Arya Bali adalah :

1.      Pangeran Tambyak di Jimbaran
2.      Ki Kalung Singkal di Taro
3.      Ki Tunjung Tutur di Tenganan
4.      Ki Tunjung Biru di Tianyar
5.      Pangeran Kopang di Seraya
6.      Ki Buahan di Batur
7.      Rakriyan Girimana di Ularan
8.      Pangeran Tangkas di Tangkas/Klungkung
9.      Pangeran Mas di Mas
10.  Perdana Menteri Ki Pasung Grigis di Tengkulak
11.  Ki Kebo Iwa di Belahbatuh

Demikian sebelas menteri Dalem Sri Tapolung. Diantara mereka tentu sebagian berasal dari keturunan Sang Ratu Ugrasena, yang berleluhur Sanjayawamsa, ksatrya Kalingga. Diantara mereka yang dapat dicari keturunannya hingga kini hanyalah Rakryan Girimana dari Ularan Singaraja. Keturunannya amat pembrani, selalu menjabat Panglima Perang Kerajaan Gelgel. Ia bergelar Jlantik, sangat terkenal sebagai Arya Ularan panglima dulang mangap yang menahlukkan Belambangan dan Jlantik Bogol pahlawan perang Pasuruan.
Pangeran Tangkas sudah camput. Keturunannya dilanjutkan oleh putra dari selir dalem, yang kemudian dikenal dengan sebutan Tangkas Tegeh Kori Agung. Berdasarkan babad Pamancangah Dalem Kramas menyebutkan bahwa salah seorang keturunan Sri Kesari Warmadewa pernah menjabat sebagai Bendesa Mas, dengan nama/sebutan Pangeran Bendesa Mas atau Pangeran Mas, berkedudukan di Mas. Beliau adalah keturunan dari Mpu Kenaka, Jenggala Kayu Manis, yang beragama Budha, datang ke Majapahit dari Keling (India Selatan) pada tahun 1309. Ada juga keturunan Arya Bali lainnya, yang sekarang bernama Karangbuncing, ia adalah keturunan Ki Pasung Grigis, patih amengkunegara kerajaan Bali.

No comments:

Post a Comment