Monday, August 13, 2012

Keberanian Seorang Wanita ( Sagung Ayu Wah )

Barang kali tidak banyak warga yang memperhatikan, sosok patung wanita yang terdapat di dekat Gedung Mario Tabanan. Namun sosok wanita berani itu telah menjadi sejarah besar bagi lahirnya kota Tabanan, dialah Sagung Ayu Wah, adik perempuan terkecil dari I Gusti Rai Perang, Raja Tabanan yang gugur di Puri Denpasar tahun 1906.





Gugurnya raja akibat tipu muslihat membuat Belanda leluasa menghancurkan kemegahan Kerajaan Tabanan dan mengasingkan keluarga Raja ke Lombok. Tetapi, Sagung Ayu Wah, gadis belia itu luput dari perhatian Belanda. Seperti yang tertulis dalam sejarah Balikan Wangaya, Sagung Wah akhirnya memimpin pemberontakan terhadap Belanda setelah menghimpun kekuatan di Wangaya (Tabanan), yang saat itu rakyatnya dipimpin oleh seorang kebayan. Setelah digembleng sekitar dua bulan, tepatnya tanggal 5 Desember 1906 pasukan Sagung Wah bergerak menuju kota Tabanan dengan membawa senjata sakti Luhur Batukaru.
Pertempuran sengit terjadi di Tuakilang antara Belanda dan pasukan Sagung Wah. Meriam dan bedil Belanda tidak bisa meledak karena kesaktian senjata yang diperoleh di Batukaru. Belanda yang bingung menghadapi serangan pasukan gagah berani itu akhirnya mundur dan meminta perlindungan Puri Kaleran. Dari Puri Kaleran yang masih merupakan bagian dari Puri Agung Tabanan akhirnya dikeluarkan senjata Ki Tulup Empet untuk menangkal senjata sakti tersebut. Kekuatan kedua senjata itu akhirnya netral dan meriam serta bedil Belanda kembali berfungsi.
Pertempuran akhirnya menjadi tidak seimbang ketika hari mulai gelap. Sagung Wah memutuskan untuk kembali ke Wangaya bersama pasukannya yang masih hidup. Dipandang Wangaya telah dicurigai Belanda, Sagung Wah memutuskan untuk pindah ke Puri Anyar Kerambitan. Setelah dua hari di sana, ada utusan dari Tabanan supaya Sagung Wah kembali ke Puri Tabanan untuk memimpin kerajaan sebagai ratu. Tetapi ternyata hal tersebut hanyalah merupakan tipu muslihat Belanda. Sagung Wah ditangkap di Dauh Pala, di depan Pura Manik Selaka, ketika sedang ditandu untuk menuju Puri Tabanan. Dia kemudian diasingkan ke Lombok.
Kepahlawanan Sagung Wah, wanita pemberani itu akhirnya menjadi simbol dari berdirinya kota Tabanan. Kini patungnya diabadikan dekat catus pata yang lokasinya masih berdekatan dengan areal puri sekarang ini. (upi)
Sumber >>   http://leegundi.wordpress.com

No comments:

Post a Comment

Post a Comment