Kata Brahmacari terdiri dari dua kata, yakni Brahma dan cari atau
carya. Brahma artinya ilmu pengetahuan sedangkan cari atau carya berasal dari
bahasa sansekerta yaitu car artinya gerak atau tingkah laku. Jadi Brahma cari
artinya tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan, terutama ilmu
pengetahuan tentang ketuhanan atau kesucian. Brahma cari juga disebut
aguron-guron (masa berguru). Oleh karena itu, seorang siswa kerohanian harus
mempunyai pikiran yang bersih yang hanya memikirkan pelajaran atau ilmu
pengetahuan saja, agar perasaan dan pikiran bisa terpusat. Belajar dengan baik
perlu adanya tata tertib yang baik, seperti : pemakaian waktu, kebersihan,
kesopanan, ketertiban, pembagian tugas, dan juga sangsi-sangsi pelanggaran yang
lebih penting lagi, seorang siswa kerohanian atau seorang brahmacari dilarang
kawin, berdagang, dan berpolitik. Petunjuk-petunjuk tadi dalam menuntut ilmu
pengetahuan selama brahmacari adalah merupakan kunci keberhasilan. Barang siapa
yang tidak menuruti aturan-aturan tadi dan tidak rajin serta tidak tekun pada
masa ini tentu akan gagal.
Dalam hubungan masyarakat seseorang yang telah sukses/berhasil dalam
tahap brahmacari diharapkan memasuki tahap berikutnya yakni hidup Grahastha
ialah masa hidup berumah tangga. Di dalam slokantara disebutkan mengenai
perkawinan masa brahmacari yang dibedakan menjadi 3 golongan, sbb :
1.
Sukla Brahmacari. > orang yang tidak pernah kawin sejak kecil sampai
ia meninggal dunia. Tokoh yang melakukan sukla brahmacari di dalam pewayangan
adalah Bisma dalam Mahabharata
2.
Sewala Brahmacari. > orang yang kawin beristri/bersuami hanya sekali
dalam hidupnya dan tidak kawin lagi walaupun istri/suaminya meninggal dunia.
Tokoh pewayangan yang melakukan Sewala Brahmacari dalam ceritra Ramayana adalah
Sang Rama.
3.
Tresna/ Krishna Brahmacari. > orang yang kawin lebih dari satu maksimal 4 orang dan tidak boleh kawin lagi.
Tokoh pewayangan yang melakukan Tresna/Krisnha Brahmacari dalah Dewa Siwa yang
istrinya 4 yaitu : Dhurga, Uma, Gori, dan Parwati.
Selain 3 macam pengertian Brahmacari di dalam perkawinan juga
disebutkan seseorang yang menuntut hidup grahastha (masa hidup berumah tangga),
harus kuat mengekang hawa nafsu dan kuat mengendalikan diri agar tidak
menyimpang dari kesusilaan, sehingga menimbulkan dosa besar seperti ;
a.
Gurwanggamana adalah kawin dengan istri guru, bekas istri guru, anak
guru, dan cucu guru.
b.
Gamyagamana adalah beristri dengan orang yang tidak boleh dipakai
istri, misalnya : kawin dengan ibu kandung (seperti ceritra Prabu
Watugunung), anak, kakak, cucu, dan
saudara kandung.
c.
Paradaragamana adalah melakukan perkawinan dengan istri orang lain.--
No comments:
Post a Comment