Tuesday, July 27, 2021

Kitab Weda Sumber Hukum Hindu

 

Bangsa Indonesia dengan negara kesatuannya NKRI memakai Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, penganut Hindu sebagai bagian dari bangsa besar Indonesia memakai kitab suci Weda sebagai sumber Hukum Hindu.

 

Indonesia negara kesatuan yang besar dari sejak nguni, pernah dijuluki macannya Asia, bukan isapan jempol. Memakai Pancasila sebagai dasar negara juga sebagai alat nan mumpuni  pemersatu bangsa, jelas tegas pada sila kelima Pancasila ; Keadilan Sosial bagi Seluruh rakyat Indonesia, menegaskan dengan gamblang bahwa pada prinsipnya negara Indonesia wajib menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan penghidupan yang layak bermartabat serta berkeadilan. Untuk semua warga negara Indonesia yang beragama serta percaya dengan adaNya, berkewajiban menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya (relegius). Memiliki prilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan sesama warga bangsa. Khususnya para penganut Hindu  yang juga sebagai bangsa Indonesia, wajib hukumnya menjalankan/mengamalkan isi kitab suci weda sebagai sumber hukum Hindu, disiplin melaksanakan ajaran kitab suci weda sebagai sumber hukum Hindu dalam segala tindakan, memahami kitab suci weda sebagai sumber hukum Hindu. Weda sebagai kitab Suci Hindu yang diyakini serta dipedomani sebagai satu-satunya sumber bimbingan juga informasi yang digunakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan kegiatan keagamaan.

 

Ketahuilah bahwa kitab suci Weda itu merupakan wahyu yang diturunkan oleh Hyang Widi, akar  Weda yakni wid yang artinya mengetahui / pengetahuan. Kesimpulannya Weda berarti pengetahuan suci yang berasal dari Hyang Widi. Dengan Weda penganut Hindu nan taat  menjadikannya sebagai satu satunya sumber bimbingan serta informasi dalam melakoni kehidupannya, lantaran isinya berupa wahyu Hyang Widi  (apauruseya). Memuat ajaran kesucian yang diterima oleh para Sapta Rsi. Ada kata Weda juga kata Widya, Tentang Widya juga disebut dengan pengetahuan (segala pengetahuan yang dikembangkan oleh penemuan manusia melaui riset/penelitian). Widya itu lebih bersifat duniawi sedangan Weda lebih bersifat rohani yang mencapai aspek kehidupan manusia. Sehingga manusia, khususnya umat Hindu mejadikan kitan suci Weda sebagai pedoman dalam bertindak dalam kesehariannya. Untuk diketahui  Weda adalah mantra, pengertian ini diambil dari Weda Sruti, yang memiliki tiga bagian ; Pertama > Mantra yaitu untuk menamakan semua kitab suci Hindu yang tergolong Catur Weda ; Reg Weda, Yayur Weda, Sama Weda, serta Atharwa Weda. Kedua > Brahmana atau Karma Kanda yakni semua jenis buku yang merupakan suplemen kitab mantra yang isinya khusus membahas aspek karma / yadnya.  Ketiga  .> Upanisad / Aranyaka yang tenar dengan nama Jnana Kanda yakni penamaan semua buku Sruti yang terdiri dari 108 buah kitab aranyaka dan upanisad. Isinya membahas aspek pengetahuan yang bersifat filsafat. Bahasa yang digunakan dalam Weda adalah bahasa Daiwi Wak, yang kemarin dulu dipopulerkan oleh Bhagawan Panini dengan istilah Bahasa Sansekerta. Upaya untuk melakukan kodefikasi Weda oleh Bhagawan Wyasa/Byasa. Kemudian Bhagawan Wyasa dikenal  sebagai Kresna Dwipayana dengan dibantu oleh para muridnya. Klasifikasi penghimpunan Weda didasarkan pada ;  Usia mantra-mantra (sloka sloka) termasuk tempat geografis turunnya mantra mantra itu. Didasarkan atas pengelompokan isi, fungsi, juga guna dari mantra mantra tersebut., Yang terakhir didasarkan atas dasar resensi keluarga Rsi yang menerima dan menggubahnya.--   astungkara bermanfaat...

                                                                                   

           

Friday, July 23, 2021

Berkat Deklarasi Djuanda

 

 

Berkat Pandangan Visioner Deklarasi Djuanda bangsa Indonesia akhirnya memiliki tambahan wilayah seluas dua juta kilometer persegi beserta sumber daya alam yang dikandungnya.

 

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki puluhan ribu pulau. NKRI memiliki luas wilayah 1.904.569 kilo meter persegi dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau besar dan kecil. Pulau yang yang lumayan besar yakni pulau Sumatra, ada serambi mekah di pulau ini. Ketahuilah bahwasanya pulau sumatra yang dahulu pernah punya sebutan pulau Perca, merupakan pulau terbesar keenam sedunia. Membujur dari barat laut ke arah tenggara sama dengan pulau Kalimantan terlintasi oleh garis khatulistiwa, seakan membagi pulau besar itu jadi dua bagian ( Sumatra belahan bumi utara an Sumatra belahan bumi selatan). Pegunungan Bukit Barisan dengan bebarapa puncaknya yang melebihi tiga ribu meter diatas permukaan laut (mdpl), merupakan barisan gunung berapi aktif. Dapat digambarkan bahwa dataran sisi barat pulau relatif sempit berpantai terjal juga dalam menghadap Samudra Hindia, sedangkan dataran sisi timurnya luas dan landai, berpantai landai dan dangkal menghadap Selat Malaka, Selat Bangka, serta Laut Cina Selatan. Dari segi grafisnya Sumatra terbagi jadi beberapa bagian ( Sumatra Utara, Sumatra Tengah, serta Sumatra Timur). Ada laut Andaman di utara pulau besar itu, di selatannya Selat Sunda sekalian pemisah dengan Pulau Jawa. Tertutupi oleh rimbunnya hutan tropis  (primer dan sekunder) menyebabkan tanah di pulau Sumatra menjadi subur.  Gunung Kerinci ada di pulau Sumatra berstatuskan gunung berapi tertinggi di pulau itu. Pulau Sumatra juga merupakan kawasan episentrum gempa, penyebabnya adalah karena pulau Sumatra dilintasi oleh patahan kerak bumi di dasar Lautan Hindia di sepanjang lepas pantai baratnya. Ada obyek wisata (DTW) menawan di pulau besar itu yakni pulau Samosir merupakan pulau di dalam pulau, karena pulau Samosir ada di tengah sebuah danau besar ; Danau Toba, danau Toba merupakan danau terbesar di seluruh wilayah NKRI.  Penduduknya terbilang padat, karena merupakan runer up setelah penduduk pulau Jawa. Secara administrasi pemerintahannya dibagi jadi sepuluh provinsi ; Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu,serta Lampung, ditambah dua provinsi yang merupakan pecahan dari provinsi induk di Sumatra yakni Riau Kepulauan dan Kepulauan Bangka Belitung.

 

Masyarakat Internasional mengakui mengenai batas laut teretorial NKRI hanya tiga mil laut terhitung dari garis pantai pasang surut terendah. Lewat berbagai proses serta mekanisme pemerintahan suatu negara pada tanggal 13 Desember 1957 pemerintah Indonesia mengeluarkan Deklarasi Djuanda tentang perubahan batas laut wilayah NKRI (penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau pulau wilayah NKRI, akan ditentukan dengan undang undang. Deklarasi Djuanda menegaskan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah Nusantara, laut bukan lagi sebagai pemisah, tetapi sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Ditegaskan lebih lanjut oleh peraturan pemerintah pengganti undang udang Nomor 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Deklarasi Djuanda Indonesia menganut konsep negara kepulauan bercirikan Nusantara. Konsep tersebut lebih lanjut diakui dalam Konvensi Hukum Laut  PBB 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS) tertanda tangani di Montego Bay, Jamaika  tahun 1982 lalu. Kemudian pemerintah Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 tersebut dengan menerbitkan Undang Undang Nomor 17 tahun 1985. Sejak itulah negara Indonesia diakui dunia sebagai negara kepulauan.--  astungkara berfaedah.---

 

Tuesday, July 20, 2021

Mantra Dainika Upasana (doa sehari-hari)

 

mantra Om Swastyastu diucapkan pada setiap awal sambutan pada suatu acara

Sejatinya tujuan dari setiap ajaran agama itu adalah agar para penganutnya bisa beretika dalam kehidupan sehari-hari, sopan santun dalam pergaulan saat berinteraksi dengan kalangan sesama.  Khususnya  pada ajaran Hindu ada yang diwajibkan utuk para penganutnya berupa suatu ajaran beretika, lewat pengamalan berbagai mantra sehari hari ( dainika upasana ), diantaranya ada mantra Om Swastyastu dan mantra Om Santhi Santhi Santhi Om.  Kedua mantra itu diucapkan dengan sikap tangan yang benar.  Mantra Dainika Upasana yang acap dilakukan para penganut Hindu nan taat dalam kehidupan kesehariannya, astungkara berakibat baik ( terbiasa memiliki sikap juga prilaku yang sopan sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab). Contohnya suatu adab adalah menghormati orang yang lebih tua karena usianya tanpa menilai/megukur kepintaran/ilmunya.

 

Pada seluruh jajaran Hindu dimanapun di belahan dunia ini, yang namanya kitab suci weda senantiasa diimplimentasikan dalam Tri Sandya serta mantra dainika upasana. Riil ada salam bagi umat Hindu, Om Swastyastu yang artinya  semoga selamat dibawah lindungan Hyang Widi. Suatu salam khas sehari hari digunakan kala bertemu dengan orang lain, misalnya saat bertamu ke rumah saudara.  Om Swastysatu juga berupa salam pembuka dalam sebuah pertemuan juga pada setiap kata sambutan.  Ada salam pembuka, ajaran Hindu juga mengenal yang namanya salam penutup : Om Santhi santhi santhi Om, yang artinya semoga damai di hati, damai didunia, damai diakhirat/damai selamanya. Salam ini merupakan salam istimewa karena terdapat juga pada mantra Tri Sandya bait terakhirnya. Sudah lumrah adanya bahwa mantram Tri Sandya jika dilihat dari segi katanya yakni Tri berarti tiga, dan sandya yang berarti sandhi berarti hubungan. Dengan demikian Tri Sandya berarti tiga kali berhubungan/menghubungkan diri dengan Hyang Widi dalam satu hari. Dengan melaksanaka Tri Sandya, maka dosa dosa akan terampuni, paling tidak dapat kebijaksanaan untuk dikurangi, astungkara.  Tri Sandya itu juga bermakna sebagai penyucian diri dari sifat guna/negatif dengan menumbuhkan sifat satwam/positif.  Mantra yang diucapkan biasaya memakai lagu/irama yang latah disebut Stotra.

 

Om Santhi santhi santhi Om, merupakan salam istimewa pada mantram Tri Sandya memiliki arti sbb . ; Santhi yang pertama bermakna kedamaian untuk sesama manusia agar terhindar dari sifat awidya/ tidak bijaksana. Santhi yang kedua bermakna memohon kedamaian untuk sesama agar terhindar dari bencana antar sesama mahluk ciptaanNya (Adi Bhautika). Serta santhi yang ketiga memiliki makna kedamaian alam semesta agar terhindar dari bencana dan mencapai keharmonisan juga keseimbangan ( Adi Dhaiwika ).  Astungkara bermanfaat.--


Sunday, July 18, 2021

Kita pertegas : Awatara Dewa dan Batara

 

Sudah sedemikian lumrahnya bahwasanya yang disebut awatara itu sampai turun ke dunia adalah lantaran dunia ini sudah tidak aman, yang namanya dharma kalah oleh adharma. Turunlah titisan Dewa Wisnu sang penyelamat ke dunia mengambil wujud manusia, menyelamatkan kehidupan manusia dari penindasan serta kekejaman aneka sifat manusia yang telah berubah jadi sifat raksasa/denawa. Semua sifat raksasa itu muncul diawali dari tumbuh suburnya sad ripu pada pikran seseorang pangkalnya adalah loba serta tamak kikir.  

 


Hindu itu memang unik, untuk sebutan (nama panggilan) yang dianggap suci menyediakan lebih dari satu nama, riil ada ; Awatata, Dewa, dan Batara. Ketiga jenis nama panggilan itu difahami diyakini merupakan suatu kewajiban yang mutlak mesti ditanamkan pada setiap insan umat Hindu. Seluruh jajaran penganut Hindu sepakat untuk melestarikan agama Hindu secara utuh menyangkut keyakinan juga serada bakti kehadapan Awatara, Dewa, juga Batara. Astungkara Hyang Widi berkehendak. Awatara itu adalah perwujudan dari Dewa Wisnu (pemelihara)  yang turun ke dunia untuk menegakkan kembali dharma, dari tantangan Adharma dengan perwujudan tertentu sesuai situasi kondisi pada saat tersebut. Khususnya berupa penyelamatan umat manusia dari cengkraman bahaya. Awatara berasal dari kata : Awa yang artinya bawah, dan tara yang artinya menyebrang/menjelma. Dewa artinya sinar suci dari Hyang Widi, yang fungsinya untuk menyinari semua mahluk hidup di alam semesta ini. Kata Dewa itu berasal dari kata Div artinya sinar (bersinar) , jadi Dewa artinya sinar suci dari Hyang Widi. Adapun fungsi dari Dewa itu adalah untuk menyinari semua mahluk hidup di alam maya pada ini agar berintegrasi antara satu dengan yang lain, hingga ujungnya agar dapat berkembang. Lebih lanjut, kata Batara memiliki arti kekuatan dari Hyang Widi, utamanya sebagai pelindung. Batara berasal dari kata bhatr artinya pemimpin, pelindung.  Maka kesimpulannya, batara itu adalah merupakan manifestasi Hyang Widi sebagai pelindung. Pada daerah tertentu walau tidak jamak lazim, batara itu diartikan sama dengan raja, karena seorang raja memiliki tugas sebagai pelindung rakyatnya contohnya Raja Brama Kumbara.

 

Untuk lebih jelasnya dapat ditegaskan, persamaan dan perbedaan antara : Awatara, Dewa, dan Batara. Kita pake contoh (kita umpamakan) seperti Matahari.  Matahari itulah perwujudan dari Hyang Widi, sinarnya matahari sebagai bentuk perwujudan dari Dewa, sedangkan panasnya matahari merupakan kekuatan yang diwujudkan sebagai Batara. Kesimpulan akhir : Awtara, Dewa, dan Batara amat sulit dibedakan hubungannya amat erat dengan Hyang Widi karena Hyang Widi itulah sumber dari segalanya.  Astungkara difahami dan bermanfaat utamanya untuk umat sedharma.--

Saturday, July 17, 2021

Pendidik, diplomat, dan para pejuang bangsa

 

[ Meneladani sikap kepahlawanan ] Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat eksis sebagai negara yang merdeka di atas dunia, berkonstitusikan UUD 1945 seperti sebagian besar negara berdaulat lainnya, meraih kemerdekaan dengan cara berjuang pisik dan pikiran yang melahirkan suatu sikap nan tegas yakni sikap kepahlawanan. Meneladani sikap kepahlawanan berarti meniru juga melaksanakan aneka sikap yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan. Pahlawan itu merupakan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran itulah dia pejuang yang gagah berani. Perbuatan seorang pahlawan memilki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia serta bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan bangsa (umat manusia).  Ada beberapa jenis pahlawan : pahlawan nasional, pahlawan perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan proklamsi serta yang lainnya. 

 

Taman Pahlawan Pancaka Tirta Tabanan

Pembukaan UUD 1945 alenia ke dua jelas menerangkan hasil dari perjuangan/usaha para pahlawan bangsa ;  “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat,adil dan makmur”  Alenea kedua pembukaan UUD 1945 ini memiliki prinsip ; penegasan tentang perjuangan kemerdekan. Ketahuilah juga bahwasanya yang namanya sifat kepahlawanan tidak hanya dilakukan oleh orang orang yang dilatih untuk berperang. Misalnya kalau di nilai dari sifat rasa cinta tanah air dan bangsa ditunjukkan dengan cara yang bebrbeda. Riilnya ada perjuangan yang dilakukan oleh para pendidik, yang mendirikan sekolah sekolah rakyat untuk mencerdaskan bangsa, ada juga sederetan para diplomat yang berjuang di meja diplomasi, serta yang berikutnya ada banyak nama seniman dan budayawan besar  melalui lagu lagu perjuangan ciptaan mereka. Demi kemajuan dan kesejahtraan bangsa mari kita belajar bersama dari para pahlawan bangsa, apa yang dapat kita lakukan masing masing sesuai bidang kita. Astungkara kita berguna bagi orang banyak.

 

 

Baca juga yang ini