Thursday, May 9, 2019

Memang pada awalnya semuanya terlahirkan


Ketahuilah aku oh Partha, adalah bibit abadi dari segala yang hidup, aku adalah kecerdasan daripada yang cerdas dan keperwiraan dari segala yang kuat, aku juga bersemayam di hati setiap mahluk, aku adalah awal, pertengahan juga akhir dari segala yang ada. Ketahuilah bahawasanya aku ; telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas serta mata dari segala mata, itulah aku Brahman.


Dewa Maha Dewa itulah Siwa

Hindu itu merupakan salah satu jalan untuk menggambarkan bahwasanya kita kita ini ada yang menciptakan, dan ada juga yang meleburnya kelak saat tidak di perlukan lagi keberadaan kita di alam maya pada ini. Terkelompok pada satu payung yang sama payung nan pinih luih, berupa suatu keyakinan yang tenar dengan nama Umat Hindu/Umat Sedharma dimana memiliki dasar keyakinan nan kuat, Panca Serada namanya ( lima dasar kepercayaan ) Terbilang ; Brahman/Ida Sanghyang Widhi, Atman /roh atma sebagai sumber hidup, Karma pala/hasil segala perbuatan, Punarbhawa/samsara/reinkarnasi/kelahiran yang berulang-ulang, dan Moksa (manunggalnya atma dengan brahman/Sang Acintya). Dalam Hindu Tuhan YME itu juga disebut Brahman maka dalam Hindu mengenal pengetahuan tentang ketuhanan/ Brahman Widya dengan filsafatnya Widhi tattwa. Brahman/Sanghyang Widhi itulah Yang Maha Kuasa sebagai ; pencipta, pemelihara, serta pemrelina segala yang ada di dunia fana ini Brahman itu kekal nan abadi (langgeng), tiada berawal tiada berakhir/anadi ananta, Maha sempurna tiada tercipta namun menciptakan diriNya sendiri/Swayembhu. Brahman itu Maha Kuasa dapat menciptakan juga mengatur alam semesta dengan kodratNya, tiada terbayangkan lantaran Maha Gaib dengan wujud Nan Ajaib pula, itulah sebabnya Brahman/Tuhan/Ida Sanghyang Widhi itu acap dibilang Hana Tan Hana, sepanjang umur jagat tergambarkanlah Beliau tiada ubahnya teka teki belaka, Astungkara kita orang beriman tetap meyakiniNya

Tidak sedikit para cendekiawan Hindu menggambarkan awal  awal masa penciptaan, di alam semesta tidak terdapat benda atau mahluk apapun. Bahkan angkasa/ether dan segala bentuk zat apapun belum ada. Hanya Brahman/esensi ilahi yang terdapat dimana-mana. Brahman adalah sesuatu yang tidak terlukiskan oleh fikiran, juga tak terasakan oleh perasaan. Brahman tidak berawal dan juga tidak berakhir. Kemudian tampaklah air dimana-mana. Tersebutlah Dewa Wisnu memanifestasikan diriNya dalam wujud  Narayana dan tidur dalam lautan yang maha luas. Nara artinya air dan Ayana berarti tempat beristirahat. Narayana tidur di air ketika belum ada apapun di jagat raya ini. Ketika sedang tertidur, sekuntum Padma/teratai keluar dari pusarnya. Teratai itu memiliki banyak kelopak serta memancarkan sinar bagaikan cahaya ribuan mentari. Dari teratai itu, lahirlah Brahma. Dan Brahma mulai khawatir ;  ”Mengapa tempat seluas ini begitu kosong, dan yang nampak hanyalah teratai ini ? Siapakah aku ? Dari mana aku dilahirkan ? Apa yang harus aku lakukan ? Anak siapakah aku ? Dari mana aku dilahirkan ?”.      Brahma berfikir, bahwa jawaban dari semua pertanyaan di atas akan dapat ditemukan jika ia menjelajahi serta menggeledah teratai yang besar itu, barangkali saja ada suatu petunjuk yang menuntun pada jawaban dari semua pertanyaan itu. Brahma kemudian menggeledah turun ke tangkai teratai itu selama 100 tahun, namun ia tidak menemukan petunjuk apapun. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke sel tempat dimana ia dilahirkan. Akan tetapi meskipun telah mengembara selama 100 tahun di tangkai itu, ia tidak menemukan sel itu. Setelah pencarian itu, Brahma kelelahan dan menyerah. Tiba-tiba terdengar perintah gaib : ”Brahma, lakukanlah tapasya/meditasi”. > Brahma kemudian bermeditasi selama 12 tahun. Setelah dua belas tahun berlalu, Wisnu yang bertangan empat, menampakkan diri pada Brahma. Pada keempat tangannya, ia membawa Sankha/terompet kerang, senjata Cakra Sudarsana, Gada serta Padma. Brahma tidak mengenali orang yang ada dihadapannya itu dan ia pun bertanya ;  ”Siapakah anda ?”. Wisnu tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berkata ; ”Nak, Dewa Wisnu telah menciptakanmu”. ”Siapakah anda ? Mengapa memanggilku anakmu ?” Tanya Brahma. ”Tidakkah kau mengenaliku ?” Jawabnya. ”Aku adalah Wisnu. Kau tercipta dari tubuhku”. Mendengar jawaban Visnu, Brahma belum juga puas. Ia mulai bertarung melawan Wisnu. Ketika mereka sedang larut dalam pertarungan, sebuah Lingga/wujud Siva muncul diantara mereka. Lingga itu tidak memiliki ujung dan pangkal. Wisnu kemudian berkata ;   ”Brahma, sebaiknya kita berhenti bertarung. Sekarang ini ada mahluk ketiga di sini. Sebagai apakah mahluk ini dan darimana datangnya, mari kita selidiki identitas mahluk ini. Kau pakailah wujud seekor angsa dan telusuri hingga kepuncaknya. Aku akan memakai wujud seekor babi hutan dan meneliti hingga ke dasarnya. Mari kita cari ujung dan pangkal Lingga ini”. Brahma setuju dengan usul Wisnu. Ia kemudian memakai wujud seekor angsa putih dan lalu terbang ke atas. Wisnupun  menjelma menjadi babi hutan putih/waraha dan pergi ke bawah tanah. Mereka berdua terus melanjutkan pencarian itu hingga 4000 tahun, namun tidak berhasil menemukan ujung dan pangkalnya. Karena putus asa, mereka kembali lagi ke tempat dimana mereka memulai pencariannya dan kemudian berdo'a.  Mereka berdo'a selama 100 tahun. Setelah berakhir 100 tahun, maka terdengarlah suara suci Om, dilantunkan, seiring dengan munculnya mahluk dengan lima kepala, sepuluh tangan. Mahluk itu muncul dihadapan mereka. Dia-lah Siwa alias Mahadewa. Wisnu kemudian berkata ;  ”Sudah lama Brahma dan aku berkelahi. Mungkin karena perkelahian kami ini anda datang”. ”Kita bertiga adalah bagian dari satu kesatuan dan dibagi menjadi tiga. Brahma adalah Pencipta, Wisnu adalah pemelihara dan aku penghancur. Kemudian akan ada sebuah mahluk lagi yang akan lahir dari tubuhku, bernama Rudra. Namun sesungguhnya aku dan Rudra adalah satu dan sama. Maka sekarang biarlah Brahma mencipta”.  Siwa kemudian menghilang. Brahma dan Wisnu kemudian kembali ke wujud asalnya, yaitu seekor angsa dan babi hutan.-

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini