Saturday, May 11, 2019

Dewa bukanlah Tuhan karena diciptakan olehNya


Acap kita bingung memang, tentang keyakinan untuk meyakini keberadaanNya, karena secara tidak langsung membericarakan sesuatu yang kasat mata, maya gituw tapi marilah kita sama sama percaya akan keyakinan masing masing, karena tidak satupun diantara kita yang meyakini adanya Tuhan pernah jumpa dengan Tuhan. Memang tiada terbantah disetiap kesusahan kita, kita senantiasa memanggil mannggil Tuhan, tapi di saat Tuhan balik memanggil semua diantara tidak ada yang mau memenuhi panggilanNya, manusiawi memang. Pada banyak media yang dijadikan tuntunan oleh umat Hindu menerangkan bahwasanya yang disebut sebagai dewa itu tiada lain merupakan ciptaan Tuhan itu sendiri terkecuali yang disebut Dewa Maha Dewa sebagai Siwa. Dengan kata lain, dewa bukanlah Tuhan karena diciptakan oleh yang menciptakan (Tat) karena hanya Tuhan sebagai pencipta, dewa dijadikan dari sinar suciNya, karena sifatnyalah ciptaan Tuhan yang satu ini disebut Dewa. Dalam kitab suci tuntutan umat Hindu juga ada dijelaskan bahwa Tuhan itu melebihi sinarNya/Dewa atau dewa melebihi dewa Di sisi yang lain juga ada kalimat ; Tuhan Yang Maha Esa berwujud dan bersemayam sebagai para dewa, dan bersemayan pula pada berbagai media suci, dan Tuhan Nan Esa itu abadi adanya Beliau adalah pelindung nan ulung serta mumpuni. Dari kesekian nama dewa/sinar suciNya ada yang lumayan tenar karena saking pentingnya penyebutan beliau dalam keseharian kehidupan manusia, riil ada Dewa Surya sebagai saksi dalam setiap saat, ada juga Dewa Indra sebagai Dewanya Hujan pemberi kesuburan di alam luas ini. Dewa Indra itu memiliki lebih dari dua sebutan diantaranya Dewa Pati artinya raja dewa, Dewa Bajri artinya dewa yang bersenjatakan bajra, Meghawahana artinya dewa yang berkendaraan awan, Mahendra artinya Indra yang agung, Swargapati artinya raja kahyangan, diyakini sebagai dewa yang bermata hebat maka disebutlah sebagai Mahksha/ Sahasrasa (dewa dengan seribu mata). Konon dalam kitab suci Hindu yang yang bernama Weda, nama dewa Indra itu sedemikian dominannya, hingga tercatat lebih dari 250 mantra yang dipakai untuk mengagungkan Dewa Indra itu. Ketahuilah jua, kata indra itu asal katanya adalah Ind dan dri yang artinya memberi makan. Ind juga berarti penuh dengan tenaga. Sebagai dewa perang juga dewa Indra riilnya berputrakan Sang Arjuna, disamping pernah meludeskan tiga benteng musuh dalam satu hujaman panah sakti maka tenarlah dengan sebutan Tri Puramadhara/Tri Puramtaka. Dewa Indra beristrikan Dewi Sachi/ Indrani gagah nian dengan kendaraannya berupa seekor gajah Airwata.
Dewa Maha Dewa


Sekilas ceritra tentang Dewa Surya ; nama asli dari Dewa Surya/ Dewa Matahari adalah Wevaswat, beristrikan Dewi Samjna (baca : Samjina), adalah merupakan anak dari Bhagawan Wiswakarma/Dewa Arsitek / Dewa Pertukangan. Dari pernikahannya dengan Dewi Samjna, mereka dikarunia tiga orang putra-putri, masing~masing bernama : Waiwaswata, Yama dan Yami. Akan tetapi, Dewi Samjna kemudian memilih pergi meninggalkan suami dan ketiga anak-anaknya karena tidak tahan dengan panas sinar tubuh suaminya. Dengan kekuatan gaibnya ia kemudian menciptakan seorang wanita yang menyerupai dirinya. Wanita itu bernama Chaya, dan hampir tidak bisa dibedakan satu sama lainnya, karena demikian miripnya. Samjna kemudian berkata kepada Chaya ; ”Tinggallah di sini dan berpura-puralah menjadi Samjna. Pelihara dan rawatlah anak-anakku : Waiwaswata, Yama dan Yami. Aku akan pergi ke rumah ayahku. Jangan beritahu siapa pun bahwa kau bukanlah Chaya”. ”Aku akan melakukan sesuai permintaanmu” jawab Chaya. ”Namun apabila suatu saat jika ada seseorang yang berani menjambat rambutku, maka pada saat itulah aku akan mengungkapkan rahasia ini”. Samjna kemudian pergi ke rumah ayahnya. Ketika dia sudah cukup lama di sana, ayahnya menjadi curiga dan ingin tahu mengapa ia tidak pulang ke rumah suaminya. Oleh karena itu, Samjna merubah wujudnya menjadi seekor kuda betina dan mulai tinggal di sebuah kerajaan bernama Uttarakuru. Sementara itu, Dewa Surya alias Wewaswat, telah memiliki seorang putra bernama Savarni. Dalam hal ini, maka jelaslah, bahwa Chaya lah yang melahirkan Sawarni. Namun dalam perlakuan ibunya itu, Yama (yang kemudian menjadi Dewa Kematian) merasa dianak-tirikan. Yama yang masih kecil dan dalam keadaan yang amat marah, kemudian menendang ibunya, dan Chaya pun berbalik mengutuk Yama. Yama kemudian melaporkan kejadian itu kepada ayahnya, Surya. Surya pun kemudian mengetahui, bahwa Chaya bukanlah ibu Yama yang sebenarnya. Surya kemudian menjambak rambut Chaya karena marahnya, sehingga Chaya tidak lagi bisa mengelak bahwa ia bukanlah Samjna. Surya kemudian pergi ke rumah mertuanya, Bhagawan Wiswakarma, untuk mencari istrinya. Setelah ditelusuri sebab-musababnya, ternyata Samjna terpaksa melakukan hal itu karena ia tidak tahan oleh panas sinar tubuh suaminya. Maka Wiswakarma kemudian memotong beberapa bagian sinar tubuh Surya, sehingga sinar Surya menjadi sedikit berkurang.
Kemudian Surya mendengar bahwa Samjna telah berwujud menjadi seekor kuda betina, maka Surya pun lalu mengubah wujudnya menjadi seekor kuda jantan. Ia kemudian pergi dan menemui istrinya. Dalam wujud seperti itu, mereka kemudian mempunyai putra kembar, yang bernama Aswini kembar. Mereka juga dipanggil Nasatya dan Dasra.-  Astungkara bermanfaat [ galah Sanicara Umanis Watugunung].

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini