Flickr

Meseselat (masang seselat) saat Sukraning Wayang

pandan wong/pandan medui/pandan berduri sebagai serana umum untuk membuat seselat, jika di Desa Belimbing Tabanan juga lumrah memakai tanaman gunggung ( duin gunggung)


Tumpek Wayang itulah  Tumpek Ringgit
 sabilang sukra wuku wayang, ingetang meseselat

Hindu oh Hindu sedemikian buanyaknya ritualmu nan aneh-aneh, tapi fakta tiada terdampik lantaran ritual-ritual itulah Hindu dari sejak nguni berlabel berbudaya tinggi tiada banding, lebih-lebih Hindu yang berkembang di tataran subur Nusantara.  Yang tiada terbantah lagi yakni saat bicara Hindu maka secara otomatis signal pikiran akan terkoneksi dengan lancar ke pulau yang sedemikian kecilnya di selatan khatulistiwa, tenar dengan nama pulau Bali sebagai Majapahit yang terakhir neng NKRI. Bali itu identik  nian dengan Hindu beserta aneka ritual keagamaannya, sampai-sampai disebut kaum kafir oleh mereka-mereka yang saat matinya kelak yakin seyakin-yakinnya akan disambut tujuh bidadri. Di tanah Bali itu seperti halnya neng Jawi kesenian wayang itu masih lestari hingga di zaman modern, dan zaman repormasi yang kebablasan ini, kesenian wayang kulit di Bali sedemikian erat terkaitnya dengan ritual keagamaan Hindu Bali. Dalam kesenian wayang kulit inilah sastra-sastra filsafat kehidupan acap diselipkan dengan manisnya oleh para dalang. Kalau di tanah Bali para bayi yang orang tuanya penganut Hindu kebetulan lahir saat Tumpek Wayang (Hari Sabtu wuku Wayang), dibuatkan otonan yang lebih istimewa karena saat otonannya dipentaskan wayang kulit. Keyakinan Hindu neng Bali, para bayi yang lahir saat Tumpek Wayang wajib hukumnya memperoleh ruatan/dilukat oleh seorang dalang via pertunjukan wayang kulit. Lasimnya memerankan lakon ceritra “Sapu Leger” mengisahkan Sang Kumara dikejar oleh Bhatara Kala untuk disantap/dimangsa, setelah Sang Kumara bersembunyi (memohon perlindungan pada Ki Dalang), barulah Sang Kumara Selamat dari kejaran/incaran Bhatara Kala.

Desa Belimbing, setiap hari Jum'at wuku Wayang daun/don gunggung dipakai sebagai bahan seselat yang sebelumnya ditaburi dengan kapur sirih, mesui dan irisan bawang merah
Desa Belimbinghari Sabtu wuku Wayang (Tumpek Wayang/Tumpek Ringgit) pagi-pagi buta seselat yang terpasang kemarin poetangnya diambil dikumpulkan jadi satu, dibakar di lebuh pada sebuah api takep (api dalam serabut kelapa) dan disertai juga segehan

Yang disebut Tumpek oleh umat Hindu di Bali, adalah salah satu rerainan (hari raya Hindu) demikian juga halnya dengan Tumpek Wayang (Hari Sabtu wuku Wayang), umat Hindu juga melakukan ritual keagamaannya dengan serana yang disebut banten dengan aneka perlengkapannya diantaranya ada banten pejati, biakaon, tebasan, peras, pengambean, dapetan serta lainnya.  Setiap ritual dilangsungkan ditutup dengan caru (segehan), riilnya kala Tumpek wayang memakai caru pandan wong/pandan berduri, segehan manca warna (warna lima). Ritual Tumpek Wayang itu ditujukan kepada dewanya kesenian (Dewa Sangkara) dengan tujuan memohon kepadaNya, khusus para seniman/pragina agar yang namanya taksu itu merasuk kedalam dirinya serta dalam aneka pementasan selanjutnya agar bertuah(metaksu)/berkharisma. Berkesinambungan setiap 210 hari sekali, sehari menjelang Tumpek Landep (Sukra/Jum’at wuku Wayang) umat Hindu seBali melaksanakan ritual meseselat (memasang seselat) berserana pandan berduri atau tumbuhan lainnya yang berduri dengan makna agar terlindungi oleh aneka kekuatan jahat. Umumnya seselat itu ditaruh di ; sanggah kemulan, sebanyak sejumlah pelinggih yang ada di lingkungan rumah ( penunggun karang, sumur, pada tiap pelangkiran, dll.) Keyakinan warga Hindu Bali kegiatan itu bertujuan demi menangkal aneka serangan jahat (manusa sakti), desti, serta bhuta kala. Karena pada saat Sukra wukuning  Wayang amat rawan, juga merupakan kesempatan yang amat baik bagi penganut ilmu hitam (ngiwa) untuk mayah/membayar tailan [menyetor arwah seseorang sebagai tebusan untuk meningkatkan ilmunya], orang Bali bilang ‘pengeleakannya’.  semoga terjauhkan dari segala bencana serta musibah”

0 Response to "Meseselat (masang seselat) saat Sukraning Wayang"

Post a Comment

Baca juga yang ini