Flickr

DiriNya hadir dalam setiap suasana ( Keyakinan kami / Kami percaya )



Warga pribumi tanah Bali (baca Hindu Bali)  dalam kesehariannya berkata  “ nak demen teken pulau Bali liu, nak sing demen teken pulau Bali masih liu “



Ooh Dewa Wisnu, oooh Dewa Siwa, atau apalah namaMu yang terucapkan,  hamba semua adalah pemujaMu karena dewa yang memiliki  aneka rupa dalam berbagai  suasana,  janganlah Engkau menyembunyikan jati diriMu pada kami…… Oooh Hyang Prama Kawi, Maha Sempurna Engkau dengan sifatMu yang Nirguna.


Yadiastun Gunung Agung erupsi..
Swadarma dados manusa memargi antar..
Domugi Sanghyang Widhi ngicen pemargi sane becik antuk semeton Karangasem..
Rahayu..

Ketahuilah dan yakinlah Tuhan itu memiliki aneka kekuatan aneka kemampuan yang maha dahsyat. Saking dahsyatnya sampai-sampai tidak tergambarkan, yang bisa diperlihatkan dalam segala jenis suasana ; dalam suka dalam duka dalam damai dalam tentram dalam perang dalam bencana riilnya saat gunung api Agung ( Giri Tohlangkir) meletus di tahun 2017. Dalam kurun waktu yang demikian panjang telah terbukti aneka cobaan terpendarkan di tanah Bali yang notabena warga pribuminya mayoritas penganut Hindu nan taat, contoh kemarin kemarin pernah ada Bom Bali 1, bom Bali 2. Serta di penghujung tahun ganjil 2017 gunung api Agung di tanah Bali meletus kembali, tapi apa yang terjadi tergurat di wajah wajah para warga tanah Bali yang terkenal tegar, terkenal amat toleran, terkenal amat pemaaf, serta penyabar yang salah satu penyebabnya adalah karena semuanya beriman kuat, karena hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta (parahyangan) senantiasa intens neng Bali. Walau tidak semua warga NKRI mengakui itu, namun ketenaran warga  Hindu Bali dalam hal gigihnya menghadapi terpaan cobaan kehidupan diakui seantero jagat. Warga Hindu Bali amat meyakini kuasaNya, karena pertolongan dariNyalah segala jenis cobaan terlewati dengan ending nyata tersenyum manis bukan getir. Zaman ini adalah now buanyak jenis yang namanya media sosial yang nan murah meriah dalam pemakaiannya contoh tertop diantar yang top ada medsos fb. Dizaman dunia dalam genggaman  seperti yang dikatan android ( diantaranya deru menderunya letusan gunung api Agung di tanah Bali) , telah banyak terjadi salah sasaran suatu pesan/peringatan,  contohnya  “ solatlah sebelum kamu disolatkan “ ditujukan untuk siapa sejatinya pesan itu?  Kami para penganut Hindu Bali tidak mengenal istilah solat, kami hanya tahu sembahyang/mebakti/maturan/ngodalin serta istilah lainnya versi penganut Hindu Bali. Atau  mungkin peringatan “solatlah sebelum kamu disolatkan” ditujukan kepada saudara-saudara kami yang muslim yang berasal dari tanah Jawi dan mengais rejeki di tanah Bali demi aneka kebutuhan hidupnya, karena mereka tidak disiplin menjalankan solat lima waktu yang wajib hukumnya. Jika peringatan “solatlah sebelum kamu disolatkan” dikaitkan dengan meletusnya gunung api Agung tahun 2017, agar para penganut Hindu Bali beralih agama memeluk agama Nabi itu, maaf sebentar dulu. Ketahuilah segala bentuk yang namanya bencana tidak terkecuali meletusnya gunung api Agung tahun 2017 adalah semua karena kuasaNya, bukan dapat diatur oleh para manusia yang selalu berhati picik berpikiran kerdil.

Pura Pasar Agung, saat gunung api Agung meletus tahun 2017
TUHAN ....Maha PENGASIH
Maha PENYAYANG
Maha ADIL dan BIJAKSANA

Apapun yg kau minta TUHAN akan memberikannya.....
Namun 1 yg selalu disimpan adalah " RAHASIA KEMATIAN " .............
.

Media sosial itu walau murah meriah janganlah di salah gunakan, belajarlah sedikit bijak dalam pemakaiannya. Amat disayangkan via medsos saling tantang antara warga sebangsa karena beda keyakinan, apa kata dunia? Menyikapi banyaknya statemen statemen  kurang tepat terkait meletusnya gunung api Agung 2017 dan endingnya terpojokkannya para warga Hindu Bali dikatakan tidak pintar dalam bersikap, cendekiawan Hindu  (Dr. Arya Wedakarna) sempat juga menanggapi, sbb ;  

 Dr. Arya Wedakarna  >> Share It - Om Swastiastu saudara sebangsa, kami mendapat banyak kiriman tentang posting status SARA ditengah bencana Gunung Agung Bali. Dan kami ingin memberi pandangan bahwa dalam agama Hindu, bencana adalah bagian dari sistem alam semesta untuk menciptakan kehidupan baru yang dalam konteks Tri Murti, fungsi pelebur dilakukan oleh Dewa Siwa Mahadewa sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk keseimbangan alam semesta. Umat Hindu di Bali tidak  pernah menyesalkan apapun bencana yang terjadi, malah kami orang Bali menghadapi dengan legawa, bersikap ksatria dan tidak pernah menyalahkan atau memaki semesta apalagi melibatkan Tuhan Hyang Maha Agung. Bagi kami, Tuhan dalam ajaran Veda Vedanta bukanlah sosok pemarah, pencemburu atau sosok yang suka memberikan hukuman pada manusia. Bagi kami Tuhan tidak lain sosok ayah yang mengayomi semua ciptaanNya secara adil, bahkan kami percaya bahwa Tuhan ada disetiap diri manusia ( Parama Atma - Bhagawad Gita ). Kami juga percaya bencana alam terjadi karena keharusan siklus kehidupan dan kami orang Bali siap bahkan menyambut dengan ikhlas jika bencana itu datang kapanpun juga. Jadi jangan tuduh kami sebagai suku bangsa perengek yang suka berkeluh kesah saat musibah terjadi, dan tegas itu bukan karakter leluhur kami. Orang - orang Bali adalah keturunan Bali Mula dan Bali Majapahit yang dikenal satya wacana terhadap ideologi dan ini yang mungkin menyebabkan Bali lebih dikenal didunia dari wilayah manapun di Nusantara hingga kini. Pada tahun 1963 Gunung Agung meletus dan akibat POSITIF nya bahwa sejak saat itu ratusan ribu orang Bali disebar oleh negara melalui programTransmigrasi dipulau pulau Indonesia, dan kita lihat saat ini hasilnya : Orang Orang Bali di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua mampu membangun kampung Bali yang mapan lengkap dengan budaya aslinya bahkan kini dibeberapa wilayah Nusantara mampu menjadi mayoritas kedua terbesar dan itu adalah contoh kecil keberkahan dari meletusnya Gunung Agung 1963. Kami juga percaya itu bagian dari kehendak sejarah untuk memenuhi ramalan Sabdo Palon Nayogenggong untuk bisa membangun pura pura besar diseluruh Nusantara hampir merata diseluruh Provinsi ( Jagatnatha ). Tanpa campur tangan Gunung Agung saat itu, mustahil kami bisa seperti saat ini. Contoh lain ? Mari ambil sejarah saat BOM BALI I dan II terjadi 2002 dan 2005, ketika itu, kami orang Bali menghadapi dengan kepala tegak dan tanpa dendam pada oknum teroris biadab yang tega membunuh tamu tamu bangsa ini dengan alasan agama, surga dan bidadari. Kami orang Bali ( baca : Umat Hindu Bali ) punya cara dan pandangan berbeda dalam menghadapi bencana dan jangan lupa kami juga kaum yang percaya dengan hukum paling absolut milik Tuhan yakni Karma Phala. Jadi, jangan sekali kali menghakimi kami orang Bali, sudahi menyakiti sesama. Komentar negatif ditengah situasi saudara bangsa yang sedang menghadapi bencana bukanlah sikap Pancasilais.
Dengan terjadinya Bom Bali 1 dan 2 itulah di tanah Bali mulai dipantau keberadaan para warga musiman, serta dikenai kipem yang di tahun 2017 yang  mulai kegerahan dengan adanya kipem tersebut. Maka senator DPD RI dari Balipun urun pernyataan ;  Dari Istana Mancawarna Tampaksiring Pernyataan Sikap Senator DPD RI Arya Wedakarna terkait ancaman aparat hukum kepada Bendesa dan Prajuru Adat Di Bali ttg pungutan dan iuran KIPEM Senator mengingatkan bahwa KIPEM dimulai di Bali pasca Bom Bali I dan II untuk mengatur pendatang. KIPEM tidak bertujuan diskriminasi tp sistem untuk mengatur pendatang karena pengalaman buruk Bali. Adanya UU diatasnya tidak serta merta menggugurkan peraturan didaerah termasuk Perda Bali 2003. Ada UUD 1945 Pasal 18 B yg melindungi desa adat. Ada UU No 6 Tahun 2014 ttg Desa yg berbicara ttg eksistensi Desa Adat. Senator RI menghimbau kepada Bendesa Adat di Bali untuk tetap melaksanakan swadharma seperti apa adanya, dan dalam waktu dkt pihak Senator akan mengadakan pertemuan dgn seluruh komponen terkait untuk mencari solusi permanen. Desa Adat saya minta untuk MEMBEDAKAN iuran untuk warga krama Bali dengan warga tamiu, jangan sampai warga krama Bali semeton dari antar kabupaten di Bali diberi beban berat. Jangan lupa ada tanggung jawab Pura Khayangan Desa dan Parahyangan yg harus dipelihara krama adat Hindu dan semua memerlukan biaya, dan belum lagi pelestarian sanggar, sekaa subak, sekaa teruna teruni dan kesenian didesa. Saya prihatin dan kecewa dengan sikap Pemerintah di Bali baik Gubernur, Bupati, Walikota termasuk DPRD di Bali yang diam 1000 bahasa saat rakyat memerlukan pembelaan. Disamping itu Desa Adat tidak usah gentar, jika nanti dilapangan ditemukan ada petugas dan aparat penegak hukum yang sewenang sewenang dan bertindak berlebihan kepada Desa Adat ( Abuse Of Power ), mohon dicatat nama, direkam dan dilaporkan ke Propam atau ke DPD RI untuk ditindaklanjuti ke nasional (Mabes). Mekanisme hukum harus ditegakkan. Jangan sampai rakyat menggunakan KULKUL BULUS saat ada Bendesa dan Prajuru Adat yg dikriminalisasi. Saya dukung desa adat. DPD RI sebagai pengawas UU tentu akan membela kepentingan daerah Bali terutama agar kebijakan Jakarta ( Pusat ) tidak diberlakukan sewenang wenang. Semoga Bali Shanti dan Desa Adat tetap digjaya sebagai wujud dari cita cita Tri Sakti Bung Karno yakni berkepribadian dibidang budaya. Semua tenang dan kami akan carikan solusi permanen. ( admin ) @jokowi @divisihumaspolri
dalam suasana apapun kami umat Hindu, senantiasa eling dengan Yang Maha Kuasa. karena anugrah serta bencana adalah kehendakNya  .......
dalam suasana apapun kami umat Hindu, senantiasa eling dengan Yang Maha Kuasa. karena anugrah serta bencana adalah kehendakNya  .......

Disisi lain diantara mereka yang acap kali datang ke tanah Bali mungkin karena saking cintanya pada pulau Bali, sempat menyimpulkan bagaimana sejatinya pulau Bali, bagaimana panorama alamnya, bagaimana para penduduk pribuminya (baca Hindu Bali)? Dia sempat mencurahkan daya imajinasinya di masa masa meletusnya gunung api Agung tahun 2017 diberi judul “Bali”, demikian ;   

BALI
Gue lupa baca di mana. Intinya, kalo ingin melihat keberadaan Tuhan, lihatlah gerak alam. Bukan cuma melihat sungai yang mengalir, angin yang berhembus, awan yang berarak, gerhana yang menakjubkan, atau ombak laut yang berdebur, tapi juga gunung yang meletus, badai puting beliung, tanah longsor, tsunami, gempa, dan sebagainya.
Sebelum mengenal konsep Tuhan, gerak alam oleh manusia old justru disikapi dengan lebih arif. Mereka melihatnya bukan saja sebagai bahasa penguasa semesta kepada manusia, tapi cara penguasa semesta menjaga keseimbangan alam. Keseimbangan yang meski mencelakakan manusia sebelumnya, tapi  akan membawa kebaikan pada manusia setelahnya.
Setelah mengenal konsep Tuhan (juga Dewa), suatu dzat tak nampak yang dinamai  sebagai pencipta semesta, manusia mulai tahu diri dengan  membagi wilayah. Malam adalah wilayah ciptaan Tuhan, sedangkan penerangan lampu adalah wilayah ciptaan manusia. Gurun, hutan, dan gunung adalah wilayah ciptaan Tuhan. Sedangkan taman, sawah, atau kebun adalah wilayah ciptaan manusia. Jelas.
Dalam perjalanannya, manusia kemudian mengenal apa yang disebut agama atau kepercayaan. Lalu diturunkanNyalah berbagai kitab. Kitab yang semakin mempertegas wilayah Tuhan dan wilayah manusia. 
Tapi apa yang terjadi di jaman now? Manusia manusia  dimabuk agama mulai masuk ke wilayah Tuhan. Dalam keadaan mabuk berat mereka sering dengan lancang mengambil peran Tuhan. Mereka berubah jadi penentu dosa dan pahala. Surga dan neraka.
Bahkan yang luar biasa kurang ajarnya, ketika alam bergerak menjadi bencana di suatu tempat, mereka tuduh masyarakat setempatnya karena  salah memilih agama. Dan mereka menyebutnya sebagai azab Tuhan mereka.
Asli gue kesel sama status bodoh salah seorang pemabuk agama yang dengan entengnya bilang, Gunung Agung meletus karena  kemarahan Tuhan akibat mereka belum memeluk Islam. Ini kan asli pekok. Trus gimana dengan bencana bencana  di wilayah pemeluk Islam, termasuk angin dahsyat yanag memporak porandakan tenda dan panggung reuni 212 buat besok. Apa itu juga bukan azab? Bukan kemarahan Tuhan pada mereka yang suka seenaknya mengatas namakanNya.?
Tapi untunglah, dari laporan laporan  langsung di tivi, dalam menghadapi sebelum dan saat Gunung Agung meletus, gue lihat masyarakat Bali terlihat cool, tenang, pasrah, dan gak panik. Persis seperti ketenangan masyarakat Jepang menghadapi bencana sebesar apa pun. Gak cengeng, gak ngemis ngemis  bantuan di jalanan, gak menjarah, gak nyalah nyalahin  pemerintah, apalagi sampai nyalah nyalahin penguasa semesta alam.
Gue gak ngerti kayak apa ajaran agama Shinto (Jepang) dan juga gak paham ajaran Hindu Bali, tapi melihat sikap dan prinsip hidup mereka, yang pasti berlandaskan ajaran agamanya, buat gue mengagumkan. Gak jauh beda dengan ajaran asli Nabi gue yang sering di kesampingkan pemeluknya. Oknum (ah gue benci dengan kata oknum) muslim jahat.
Gak lama setelah tragedi Bom Bali I, gue menyempatkan main main  ke sana. Meski terjadi penurunan jumlah wisata, tapi suasana dan aura alam Bali yang gue rasain biasa biasa aja, tenang dan teduh. Seperti gak pernah terjadi apa apa.  Kok bisa ya. Dari wajah wajah  mereka gak terlihat ekspresi benci, marah, dendam, atau sakit hati.
Jujur sebagai muslim gue malu karena  mereka sudah  jadi korban gak bersalah orang seagama gue yang rindu surga tapi ke sana lewat jalur mabuk agama. Orang orang  yang sudah berani mengambil kerjaan mutlak Tuhan sebagai penentu hidup mati manusia.
Jangan engkau kira gunung gunung  itu diam, dia juga bergerak sebagaimana makhluk Tuhan lainnya. Begitu kata dalam kitab suci gue, Al Quran. Apakah ketika gunung itu bergerak dan menimbulkan bencana disebut azab atau ujian, itu sudah wilayah Tuhan. Jangan ikut campur. Wilayah manusia adalah berusaha menyelamatkan diri denang segala daya cipta. Untuk  itu salut pada masyarakat Bali dalam menyikapi bencana.
Kepada saudara saudara gue di mana pun berada yang saat ini mendapat bencana, gue turut berduka. Siapa pun anda dan apa pun agama anda. Salam.
Kepsyen:
Gunung Agung dan kearifan orang Bali. Tenang di antara tanda tanda  bencana.

 

0 Response to "DiriNya hadir dalam setiap suasana ( Keyakinan kami / Kami percaya )"

Post a Comment

Baca juga yang ini