Tuesday, June 6, 2017

Kedis Cetrung di desa Belimbing





Ring carike sane linggah, pantun nyane sampun kuning, icetrung ngelah pianak, nanging kantun alit-alit, rawuh sang mederbe carik, sane benjang jagi durus, keanyi padi punike, icetrung sedih ngurimik, ratu aguung, kenken jani baan medaya.

Kedis itu sama dengan burung dalam bahasa Bali, merupakan salah satu jenis ciptaanNya yang sedemikian lincahnya berkepak dengan sayapnya nan mungil diantara menguningnya padi di sawah. Rasanya tidak hanya di Desa Belimbing Kabupaten Kota Pelangi Tabanan Bali, yang namanya burung yang satu ini diyakini sebagai pembantu nyata bagi para petani khususnya petani yang menggarap tanah sawah untuk mendapatkan padi. Para warga pribumi di Bali yang notabene merupakan penganut agama Hindu, khususnya yang penghidupannya sebagai petani meyakini betul bahwa kedis/burung cetrung itu adalah merupakan pelindung padi (khususnya padi yang hampir kuning/masak), orang Bali berkata “ kedis cetrunge nto, ye pengempun padi, tusing nyak ngamah padi, kedis cetrunge nto ye anak nyebun dogen dipadine”. Jadi jelaslah burung yang satu ini, yang selama hidupnya selalu di tengah sawah bukan merupakan hama padi (bukan musuh petani), bahkan merupakan pembantu nyata para petani.

rumpun padi yang dijadikan sarang oleh kedis cetrung dan berisi anak cetrung yang masih kecil, maka rumpun padi itu tidak dipanen

sawah di desa Belimbing, saat panen padi tiba

Untuk contoh riilnya kita kembali ke Desa Belimbing ;  Seperti yang telah buanyak  di infokan bahwasanya di desa Belimbing Kecamatan Pupuan Kabupaten Kota Pelangi Tabanan Bali, mayoritas warganya sebagai petani aktif trampil agresif, yang kesehariannya sebagai penggarap tanah sawah nan luas. Sedemikian luasnya tanah sawah di Desa Belimbing, diantaranya tercakup dalam beberapa  subak besar ; subak teben telabah, subak mas, subak Suradadi, Subak Bubuh (Durentaluh),dll. Dalam penggarapan tanah-tanah sawah itulah, para petani di desa Belimbing berulang kali membuktikan, berulang kali juga menyaksikan sepak terjang para kedis cetrung di sawah sawah nan luas di seputaran Belimbing. Apa yang mereka dapati/lihat tentang kedis cetrung? Ketahuilah hama padi di sawah itu tak terkecuali padi di Desa Belimbing yang paling sulit dikendalikan adalah tikus dan burung (burung perit dan burung petingan yang menyerang secara bergerilya serta berkelompok). 
 
demikian indahnya desa Belimbing itu di mata para Wisman dan Wisnu

Di Desa Belimbing dalam satu tahun kalender masehi petaninya menanam dan memanen padi di sawah sebanyak dua kali, lumrah yang terjadi ntah apa yang menyebabkan. Dalam dua kali panen setahun itu, sekali hama burungnya tidak seberapa (berupa kelompok-kelompok kecil maksimal 15 ekor) namun untuk masa menjelang panen berikutnya hama burungnya luar biasa (dalam satu kelompok burung yang menyerang jumlahnya ratusa bahkan ribuan). Nah, di sinilah jelas para petani itu berulang kali dapat membuktikan di saat-saat hama burung akan menyerang padi di sawah, ntah dari mana munculnya si kedis cetrung seekor atau lebih (maksimal tiga ekor) dengan gesitnya terbang memotong lintasan burung penyerang padi, otomatis burung penyerang tidak jadi menukik ke bawah bahkan kembali naik setinggi-tingginya sejauh-jaunya. Saya sendiri (Wayan Suyasa), berkali-kali menyaksikan adegan itu, bahkan saya berulang kali juga melongo setelah menyaksikan adegan ekstrim itu. Ekstrim karena burung yang jumlahnya ratusan kalah oleh seekor atau dua ekor cetrung. Sebagai balas jasa para petani kepada si kedis cetrung, jika saat panen padi tiba ditemukan sarang burung cetrung di dalamnya berisi anak cetrung yang belum dewasa orang Bali bilang “onden ngelalahang” maka rumpun padi yang dipakai sarang itu tidak akan dipanen padinya, dan perkembangan selanjutnya regenerasi anak cetrung tidak diganggu.-

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini