Wednesday, July 6, 2016

Puranya dekat Pura Srijong





Setelah Panglima Meliter Tanah Bali Kebo Iwa Gugur barulah tanah Bali ada dalam genggaman tangan Maha Patih Majapahit Gajah Mada berbungkuskan Sumpah Palapa

Lokasi : di barat lautnya pura Srijong pantai payan Tabanan

Sejatinya tanah Bali itu disebut sebagai Majapahit yang terakhir tidaklah terlalu keliru, mengingat dari sejak  nguni sebut saja di awalnya abad 14 pernah ada seorang Panglima Meliter nan sakti mandaraguna disegani lawan serta kawan berperan akftif menjaga kedamaian nusa kecil Bali. Saat itu, Sri Gajah Waktra/Dalem Bedaulu/ Sri Astasura Ratna Bumi Banten Sang Pemberani juga sedemikian saktinya memerintah tanah Bali menjadikan seorang perjaka tangguh sebagai Panglima meliternya dialah  Kebo Iwa/Kebo Wandira/Kebo Taruna. Kala itu di Bali dan Jawa memakai aneka nama binatang sebagai titel kehormatan kepada mereka-mereka yang diistimewakan., riil ada : Kebo (kerbau),Gajah, Mahisa (banteng), Banyak (angsa) misalnya Kebo Anabrang, Mahisa Cempaka,Mahesa Jenar, Lembu Sora,Gajah Para, Banyak Wide, serta lainnya. Ketahuilah, bahwasanya Panglima andalan tanah Bali Si Kebo Iwa amat ditakuti oleh Maha Patih Besar Gajah Mada mungkin ilmu kesatian Jawa kalah oleh ilmu kesaktian Bali.  Saat Sri Gajah Waktra bertahta di tanah Bali sedemikian keloktahnya, banyak raja-raja lain merinding baru mendengar namanya, dimana Sang Penguasa yang satu ini memiliki sejumlah pendamping  nan sakti mandaraguna (kebal) diantaranya ; Maha Patih Ki Pasung Grigis di Tengkulak, Patih Kebo Iwa di Blahbatuh, Temenggung Ki Kala Gemet, Ki Tunjung Tutur, Ki Tunjung Biru, Ki Tambiak, Ki Kalung Singal serta orang-orang sakti lainnya. Tidaklah heran pasukan Majapahit sempat gemetar kala menahlukkan tanah Bali. Sebelum Kebo Iwa maninggal selama itu jua tanah Bali tidak terggenggam oleh tangannya Maha Patih Gajah Mada. ( karena mengetahui keinginan Patih Gajah Mada yang kuat mewujudkan sumpah palapanya, maka akhirnya Si Jantan Kebo Iwa memberitahu Maha Patih Gajah Mada kelemahan diriny, agar bisa dikalahkan)

Sebagai seorang panglima meliter di zamannya, tentu harus senantiasa menjaga darat serta laut, berkeliling di sepanjang pantainya nusa kecil Bali. Maka tidaklah heran jika hingga akhir ayatnya Si Panglima Kebo Iwa selalu di hormati walaupun nyata-nyata dia telah tiada. Warga Bali (baca Hindu Bali), punya cara tersendiri dalam menghormati jasa-jasa besar seseorang yakni dengan membuatkan sebuah pura sebagai tempat menghormati dan mengenang  atas jasa mereka, misalnya jasa para orang suci (Danghyang Nirartha), namun  demikian Umat Hindu Bali tidaklah pernah mendewakan seseorang.  Sebagai bukti kongkrit Patih Besar Kebo Iwa yang asalnya dari Blahbatuh Gianyar, tapi juga tempat menghormatinya berupa sebuah pura ada di Pantai Payan ( di barat lautnya Pura Srijong).  Merupakan bukti yang tiada terbantah kalau pada zamannya dulu Patih Kebo Iwa pernah berdomisili atau paling tidak melakukan aneka aktivitas yang menyangkut orang banyak di sekitar pantai payan (pantai Soka). Hingga di tahun dua ribuan, di seputar Pura Srijong masih  diyakini ada peninggalan Patih Kebo Iwa berupa dapur/paon (bhs.Bali) dan periuk/payuk (bhs.Bali) mereka acap menyebut “payuk kebo iwa”.

No comments:

Post a Comment

Baca juga yang ini