Flickr

Sebagai pertanda nyepi di Desa Palaktiying





Di Nusa Kecil Bali ritual keagaman  tawur agung kesanga (ngerupuk/pengerupukan) telah lasim dilaksanakan sehari menjelang nyepi (saat tilem sasih kesanga).  Namun bukan lautan berlian namanya  jika tidak ada hal-hal yang lain bernilai tinggi setinggi nilai berlian  yang di miliki tanah Bali. Di tanah Bali saat Hari Raya Pengerupukan / usai tawur agung kesanga terkenal nian dengan kegiatan pawai agoh-ogoh dengan aneka rupa bermotipkan gambaran ribuan wajah buta kala, segala kreatifitas dan imajinasi para desainer ogoh-ogoh jelas kentara ( mereka memang cerdas walau nyata faktor pendidikan bukan yang utama).

Tegen-tegenann, contoh serana ritual keagamaan umat Hindu Bali
Ritual keagamaan Hindu di nusa kecil Bali diantaranya ada memakai serana upacara yang disebut tegen-tegenan.

Bersamaan dengan saatnya bulan mati disetiap tahunnya kala sasih kesanga, tanah Bali itu meriah  bernuansa relegius keagamaan khususnya nuansa Hindu. Kesemuanya memperkaya khasanah budaya tanah Bali berbatangkan aneka ritual keagamaan, rada-rada kebanyakan merupakan ungkapan rasa syukur akan karuniaNya ( itulah umat Hindu Bali). Riil terjadi di saban tahunnya, ritual megebek-gebekan godel di tanah Bali bagian utara (Desa Pakraman Tukadmungga punya tradisi). Ritual yang satu ini merupakan suatu kegiatan memperebutkan sisa daging godel (anak sapi) yang telah disemblih. Penyemblihan anak sapi itu, tujuan utamanya adalah sebagai serana upacara (diolah sebagai serana pecaruan yakni keempat kaki godel dan kepalanya). Saat ritual megebek-megebekan, semua daging godel yang tersisa diperebutkan oleh masyarakat beramai-ramai. Semua ritual keagamaan oleh umat Hindu Bali tentu ada makna serta tujuannya, demikian juga ritual yang satu ini bermakna mempererat persatuan orang bali bilang “menyama braya”

contoh Tegen-tegenan (lokasi Pura Puseh Durentaluh, Mei 2016)
contoh Tegen-tegenan (lokasi Desa Pakraman Durentaluh, Mei 2016)

Kalau di Bali Utara ada acara megebek-gebekan, kabupaten sejuk Bangli juga punya tradisi yang pelaksanaannya juga saban tahun kala bulan mati sasih kesanga. Bangli itu hingga ke manca negara sana keloktah tenar dengan panorama alamnya nan indah mempesona, ada danau Batur dengan berpagarkan perbukitan yang berlekuk indah. Kintamani dengan Penelokannya juga ada di kabupaten sejuk Bangli,  bukan hanya itu tradisi keagamaan yang lestari juga dimiliki Bangli. Ngusabha Tegenan demikian namanya, rutin setahun sekali dilaksanakan oleh warga Desa Pakraman Palaktiying, Desa Landih. Merupakan suatu warisan yang tetap lestari dan terjaga,  di langsungkan di sebuah pura, Pura Dalem Pingit. Tegen-tegenan demikian nama serana utamanya berupa suatu bentuk beban untuk para lelaki ( di Bali menggotong beban itu disebut negen, beban digotong dengan sepotong bambu/kayu  di taruh di depan dan dibelakang ). Bentuk sesaji /upakara tegen-tegenan itu menyerupai beban seorang laki-laki yang siap menggotong. Bedanya upakara tegen-tegenan itu, alat menggotongnya adalah sepotong kayu dapdap (kayu sakti), satu ujungnya berisi tipat kelan (6 buah ketipat) dan ujung satunya diisi aneka buah, jaja begina, jaja uli dan dilengkapi sampian sejenis canang khusus  ( hiasan janur/daun kelapa muda). Malam harinya, usai tegen-tegenan dihaturkan di Pura Dalem Pingit, semua warga melaksanakan persembahyangan bersama dilanjutkan acara ngelungsur didahului ngelungsur tegenan bersama (tegenan desa), dilanjutkan dengan tegenan masing-masing yang diiringi sorakan bersama. Tegenan bersama ( tegenan desa) diperebutkan oleh warga/krama di jaba pura. Sedangkan serana tegenan yang paling mengandung unsur seni yakni sampian (sejenis canang)  tidak diperkenankan untuk dibuang, namun harus di pasang di angkul-angkul lebuh (pintu pekarangan) sebagai pertanda adanya ritual keagamaan Nyepi/ beratha penyepian. Jenis beratha penyepiannya sama dengan warga Hindu pada umumnya di nusa kecil Bali, tapi nyepi di desa pakraman Palaktiying lamanya dua hari. Warga yang melanggar tentu kena sanksi, biasanya denda 1 kg beras per orang.

Sumber bacaan  : majalah bali post  133 & 134.

0 Response to "Sebagai pertanda nyepi di Desa Palaktiying"

Post a Comment

Baca juga yang ini