Flickr

Mbed-mbedan itu tradisi di Abianbase Badung Bali




Bukan suatu rahasia lagi kalau di kalangan umat Hindu, ada suatu kewajiban untuk selalu hormat/menghormati para orang-orang sucinya, misalnya Rsi makanya ada istilah Rsi Rna pada ajaran Hindu (Rsi Rna merupakan pengejawantahan umat Hindu tentang mewujudkan rasa hormat sujudnya kepada orang suci). Terkait dengan penghormatan terhadap orang suci (Rsi dan lainnya)  oleh umat Hindu (khususnya Hindu Bali), pada suatu ketika dahulu bertempat di Desa Adat Semate, kelurahan Abianbase,Mengwi, Badung pernah terjadi pengambilan keputusan untuk musyawarah mufakat terbilang tarik ulur sampai-sampai Rsi Mpu Bantas mengeluarkan suatu bhisama (maaf, tentang isi bhisama tidak ada di jelaskan pada sumber)

Demi untuk menghormati isi bhisama sang Rsi itu, hingga di era nan serba  modern dan online maka dilaksanakanlah satu tradisi di setiap tahunnya (kala penanggal ping kalih sasih kedasa/setiap hari raya Ngembak Nyepi), mbed-mbedan demikian namanya tradisi itu. Mbed-mbedan/mekedeng-kedengan tali/ tarik tambang yang diikuti oleh warga desa adat Semate baik kaum muda dan yang telah berkeluarga. Adapun sebagai talinya adalah sejenis tali khusus, karena terbuat dari bun kalot yang di dapat dari tumbuhan menjalar di sebuah pohon (pohon kroya) yang tumbuh di kuburan desa adat Semate. ( semua tumbuhan yang menjalar dan melilit kayu-kayu besar, orang Bali menamai bun, contoh : bun celeceh, bun kalot, bun atta, dll). Acara mbed-mbedan tersebut, pertama kali diadakan adalah saat upacara melaspas  pura Kahyangan Tiga di Desa Semata saat tahun saka 1936 / 1474 masehi, dan tradisi yang satu ini biasa dilaksanakan di depan pura puseh desa adat Semate, para peserta berpakaian adat Bali karena acara ini dirangkaikan dengan acara persembahyangan bersama, dengan  diiringi musik  khas Hindu  Bali bleganjur


Sumber bacaan : majalah Bali Post edisi 132

0 Response to "Mbed-mbedan itu tradisi di Abianbase Badung Bali"

Post a Comment

Baca juga yang ini