Flickr

Berlayar hingga jauh, akhirnya tertatih-tatih di Tanah Tanimbar

Keyakinan/ajaran Hindu di Tanimbar itu diyakini berasal dari Tanah Bali


Dari sejak lampau dalam hitungan waktu yang tidak pasti dan tercatat para penghuni dataran kepulauan yang keloktah bernama Nusantara merupakan orang-orang agraris tulen, dan juga terkenal sebagai pelaut nan ulung. Disamping itu ada suatu hal yang tidak dilupakan warga sejagat jika sedang membicarakan tentang orang-orang Nusantara, yakni tentang keimanannya yang sedemikian tangguh lantaran merupakan sekelompok orang-orang taqwa akanNya. Suatu contoh riil, ada daerahnya Nusantara (sekarang NKRI) di kawasan timur sana, sebuah desa yang bernama Tanimbar Kei, dari sejak nguni katakanlaah sebelum kerajaan Majapahit jaya warganya telah sedemikian percayanya akan berbagai benda sakral,  dan mereka amat percaya serta  menaruh hormat kepada roh para leluhurnya yang mereka namakan mitu. Waktu merangkak, saat kerajaan besar Majapahit berkuasa hingga di kawasan Malaku, kian kukuhlah keparcayaan orang-orang Tanimbar Kei akan adanya Sang Pencipta, dan keyakinan mereka sudah bernama Hindu.

berlayar dari nusa kecil Bali berlabuh di kei Kecil

Konon sesuai hikayat yang ada di Tanimbar Kei, nenek moyang orang Kei asalnya dari tanah Bali (Pulau Dewata, dalam tutur tidak dijelaskan di Pulau Bali bagian mana  Karangasem, Buleleng, Negara/jembrana, atau daerah mananya.), mereka menamakannya Bal (Bali). Kala itu perhitungan waktu belum memasuki tahun seribu Sembilan ratusan, berangkatlah / mengarungi laut sekelompok orang Bali kearah matahari terbit, salah seorang dari mereka merupakan anak paling kecil (bungsu) Ketut namanya, Ketut kebetulan orangnya  tergolong orang spiritual. Dalam hitungan waktu merekapun dengan selamat sampai di wilayah Maluku bagian tenggara, bersandar berlabuh disebuah pulau kecil, pada sebuah desa yang bernama Letvuan. Haripun bertambah ke hitungan bulan, maka disepakati pulau kecil itu dijadikan suatu pusat pemerintahan tempat dikembangkannya sebuah hukum adat Darah Merah Tombak Bali ( larvul ngabal), bukti kongkrit lainnya yang menyatakan daerah Tanimbar Kei (Kei Kecil) ada hubungan dengan Bali dengan di lestarikannya suatu tempat berlabuhnya perahu-perahu kerajaan era itu yang dinamakan Bal Sorbay (Bali-Surabaya).

Rupanya kelebihan dibidang spiritual yang dimiliki Ketut saat itu tidak di pergunakannnya sendiri, Ketut mengajarkan segala sesuatu  yang berhubungan dengan keyakinan (baca Hindu) kepada para warga di Tanimbar Kei (Kei Kecil). Dilingkungannya Ketut dikenal dengan sebutan Tebtut beristrikan wanita Tanimbar Kei. Adapun desa Tanimbar Kei sekarang merupakan wilayah kecamatan Kei Kecil Barat,Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Terbagi jadi dua lokasi perkampungan yakni atas dan bawah. Kampung atas, sesuai namanya ada di atas sebuah tebing merupakan sebuah perkampungan yang amat disucikan/ disakralkan oleh warga Hindu di Tanimbar Kei. Di Kampung atas itu ada berbagai jenis peninggalan : rumah adat, arca yang dinamai wadah, beraneka gelang berbahan timah, tembaga, emas, serta uang bolong/pis bolong (bhs.,Bali) mereka menamai uang gobang, yang mana uang bolong/uang gobang ini amat berperan disetiap ritual adat persis nian dengan ritual keagamaan Hindu di Bali berserana uang bolong (pis bolong). Rupanya jauh berlayar dari Bal (Bali) hingga ke Malaku Tenggara akhirnya para keturunannya dengan tertatih-tatih melanjutkan suatu keyakinan dari sejak nguni hingga berhasil mewujudkan sebuah tempat suci merupakan replika surga yang disebut pura, maka kian nyata ada benarnya pepatah lama : di mana bumi dipijak disana langit dijunjung.

Di sarikan kembali info dari internet yang mengglobal.


0 Response to "Berlayar hingga jauh, akhirnya tertatih-tatih di Tanah Tanimbar"

Post a Comment

Baca juga yang ini