Flickr

Hindu menyebutnya dharmika



Dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan maka dapat juga di bilang “telah berlari dalam berbuat kebaikan”




Kita semua menjadi satu keluarga, keluarga besar yang tiada lain juga merupakan satu bangsa, bangsa yang lumayan besar, disegani oleh aneka bangsa lain di dunia. Kita bersatu merupakan satu kesatuan yang amat kokoh,  nyata banyak suku suku bangsa yang menyatukan diri demi membesarkan sebuah Negeri, negeri/ negara kesatuan Republik Indonesia. Tiada terbantah dari Sabang hingga Mirauake itulah batas-batas riilnya. Kita ini berbanyak, maka sudahlah tentu kita kaya, kaya akan kemajemukan serta kemajemukan yang mampu melengkapi berbagai kekurangan, bangsa lain di seluruh dunia, jarang kayak Indonesia kita. Tidak hanya aneka suku bangsa yang ada, keyakinan akan keberadaanNya juga banyak di NKRI ( Indonesia itu negara super hebat, hanya Indonesia yang mampu mempersatukan  keyakinan lima agama dalam satu negara ). Diantara lima agama/keyakinan  itu, Agama Hindu juga ada dalam hitungan, Hindu tiada terbantah berbudaya tinggi, dan tertua.


Lebih hebat lagi, nusa kecil Bali bagian wilayahnya NKRI,  hebat…..hebaaaat karena di seluruh bagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya ada di nusa kecil Bali, dalam satu areal berdiri lima jenis tempat suci dari masing-masing agama, Puja Mandala nama tempat itu. Nusa kecil Bali, seantero jagat tahu mayoritas warganya pemeluk Hindu nan taat toleransi beragamanya tinggi. Bali itu ibarat lautan, disanalah lautan berlian berjenis budaya, banyak ragam budayanya tanah Bali, semuanya bernilai tinggi setinggi nilainya  berlian. Keloktah sudah, sejatinya budaya itu termasuk salah satu kearifan lokal. Salah satu kearifan lokal Bali diantaranya adalah tentang kewajiban pemeluk agama Hindu, bicara tentang tanah Bali tentulah yang dimaksudkan adalah para warga Bali penganut Hindu. Dimana ada penganut Hindu tentulah disana dikenal istilah tri kaya parisudha. Tri kaya parisudha itu juga merupakan salah satu jenis kearifan lokal/ kearifan lokal  Bali. Semua penganut Hindu diwajibkan mengendalikan tiga unsur dalam dirinya, demi dapat berbuat susila menjauhi dursila.  Gampangnya menyebut, ada tiga jenis perbuatan yang mestinya dikendalikan ( berpikir/manacika, berkata/wacika, berbuat/kayika), dengan tujuan utama agar menjadi orang yang berbudhi luhur. Tiada terpungkiri, dari pikiran yang dikendalikan/suci akan terlahir perkataan-perkataan yang baik/suci, dengan adanya pikiran dan perkataan yang baik/suci yakin akan terwujud perbuatan yang baik/suci. Dalam ajaran Hindu ( kearifan lokal Bali), dikatakan  orang-orang yang mampu mengamalkan tri kaya parisudha (berpikir, berkata, berbuat) yang baik dalam kehidupan sehari-harinya disebut “seorang dharmika” / “ berbudhi luhur”


0 Response to "Hindu menyebutnya dharmika"

Post a Comment

Baca juga yang ini