Flickr

Manjangan Salwang




Lantaran di sayang para Dewatalah, nusa kecil yang terletak antara Selat Bali dan Selat Lombok itu dapat damai dari sejak nguni hingga Nusantara memasuki zamannya batu akik.. Atas kehendakNya jua pada waktu yang telah ditentukan dahulu sekelompok orang suci dari tanah Jawi menyebrangi segara Rupek melaksanakan misi keagamaannya, dan sukses. Jumlah mereka ada empat orang, Sang Catur Sanak demikian disebut diantaranya : Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, dan Mpu Kuturan (Mpu yang terpopuler diantara mereka berempat). Tidaklah terlalu salah jika dikatakan kedatangan  para Mpu itu dengan misinya adalah karena juga saking sayangnya Hyang Widhi kepada tanah Bali beserta para pemujaNya.  Sejatinya dari sejak dahulu katakanlah era Bali Mula bahkan jauh sebelumnya para penduduk tanah Bali telah memujaNya atau dengan kata lain penduduk tanah  Bali itu bukan atheis, hanya saja  tatanan keagamaan dan masyarakatnya belum dapat dikatakan teratur/tertib/tertata.


Merupakan suatu hal yang tiada terbantah, dengan kedatangan Sang Catur Sanak ke tanah Bali telah melahirkan perubahan besar dalam tata keagamaan,dan kehidupan  masyarakat tanah Bali. Tata tertib telah berhasil mereka susun,  misalnya tata tertib desa, lagi pula berbagai jenis pura telah mereka dirikan ( Kahyangan Tiga dan Sad Kahyangan ). Di era itulah telah diciptakan yang namanya usana bali, yang memuat tentang aturan/tata cara upacara keagamaan. Pura terbesar ditanah Bali Besakih, juga berhasil diperluas atas jasa Mpu Kuturan, adanya pelinggih meru juga atas jasa mpu yang satu ini. Yang namanya desa pakraman di tanah Bali juga telah ada di zamannya Mpu Kuturan,  desa pakraman itu hingga kini terkait erat dengan parahyangan, palemahan (unsur wilayah teritorial), dan unsur manusia (pawongan). Selanjutnya demi menjaga ketentraman, dan keselamatan masyarakat Bali Mpu Kuturan membuat dan menyempurnakan kahyangan jagat yang kesemuanya ada delapan. Kedelapan kahyangan itu : pura Besakih, Lempuyang, Andakasa, Goa Lawah, Batukaru, Beratan, Batur, dan Uluwatu.

Khusus tentang Mpu Kuturan, yang sedemikian besar jasanya bagi masyarakat Bali dan keturunannya, konon beliau mendatangi tanah Bali dengan mengendarai seekor menjangan. Atas pertimbangan itu pula demi menghormati / menghargai jasa besarnya maka dibuatkanlah pelinggih khusus untuk Beliau berbentuk  manjangan salwang. Mungkin karena semua orang bebas berpendapat maka, diantara kesekian masyarakat tanah Bali ada yang menganggap/berpendapat bahwa manjangan salwang berarti balai yang panjang dan luas ( manjangan = panjang, salu bermakna balai/wang berarti luas). Sehingga kata manjangan salwang diartikan  sebagai lambang sebuah balai yang panjang dan luas, tempat para dewa mengadakan pertemuan/paruman/pesamuan agung.


catatan : manjangan salwang / manjangan saluang / menjangan saluang


Sumber bacaan : buku babad pasek  ‘Jro Mangku Gde Ketut Soebandi’

0 Response to "Manjangan Salwang"

Post a Comment

Baca juga yang ini