Monday, August 13, 2012

Subak jadi warisan budaya dunia




Suatu hal yang patut diingat adalah bahwa subak sebagai organisasi masyarakat petani bukanlah hanya menonjol karena sistim pembagian airnya saja, akan tetapi subak juga tidak dapat dilepaskan dari kaitannya dengan pengamalan ajaran Agama Hindu, serta adat/cara mengerjakan sawah di tanah Bali secara keseluruhan, ternasuk tata tertib/awig dan tata upacaranya. Dan yang tak kalah pentingnya  adalah tentang pemilihan hari baik menanam dan memotong padi yang disebut “pedewasan”. Tanpa memperhatikan kesemuanya itu maka subak di tanah Bali akan kehilangan identitasnya yang khas.


Ditetapkannya subak sebagai situs warisan budaya dunia oleh Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) merupakan proses panjang yang memakan waktu 12 tahun lamanya. Hal ini tentunya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bali, dan Indonesia pada umumnya. Pengakuan ini sekaligus menjadi pemacu bagi masyarakat Bali, Indonesia, dan Dunia untuk menjaga subak sebagai warisan budaya Hindu yang berlandaskan Tri Hita Karana.
Hal ini disampaikan Wali Unesco Tjokorda Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) saat memberikan seminar subak di jabe Pura Luhur Ulun Suwi Batu Lumbang, Jati Luwih, Penebel Tabanan, (10/8/2012). Dihadapan para krama subak setempat, Cok Ace menyampaikan saat menghadiri sidang bersama bupati Badung, Unesco dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia di Saint Petersburg, Rusia, mengumumkan subak adalah salah satu dari 36 usulan situs alam, budaya, serta situs gabungan alam dan budaya yang di bahas dalam sidang tahunan pada 24 Juni s.d 6 Juli 2012 di ibu kota Rusia bagian utara. Menurut Cok Ace pada saat memasuki sesi pembahasan Indonesia, International Council on Monument and site (ICOMOS) yang merupakan salah satu advisory body Unesco menyampaikan presentasi tentang  “Cultural Landscape of Bali Province : the Subak System as a manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (CLBP)”. Sekitar 600 peserta plus ratusan pengamat dari negara 21 anggauta Komite Warisan Dunia dan negara pihak Konvensi 1972 tentang Warisan Dunia, tidak ada yang menyatakan keberatan terhadap penetapan tersebut.


Unesco mengakui subak adalah merupakan sebuah sistim pengaturan pengairan di dalam pertanian. Unesco menilai subak tidak hanya terlihat dari kesuburan dan hijaunya hamparan persawahan teras sering, tetapi terkait kelestarian budaya asli masyarakat Bali. Sisstim subak erat hubungannya dengan ajaran Hindu yang tertuang dalam Tri Hita Karana atau Tiga Sumber Kebaikan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, serta manusia dengan manusia.
Keharmonisan hubungan antara unsur-unsur tersebut diwujudkan secara turun temurun melalui subak yang mengandung arti kepedulian, kebersamaan dan saling menghormati. Salah seorang peserta seminar I Nyoman Suartawan menanyakan tentang konpensasi yang akan diterima dengan penetapan subak sebagai warisan budaya dunia. Cok Ace menjelaskan sebagai bagian warisan budaya dunia, keberadaan subak di Bali untuk konsep Pahrayangan diwakili oleh Pura Taman Ayun, Badung, Powongan pada sistim organisasi subak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Pakerisan Gianyar, dan Palemahan di Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Kesemuanya merupakan satu kesatuan utuh adari keberadaan subak yang diakui dunia. Hal ini tentunya akan memberi manfaat pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan untuk mengetahui subak secara lebih dekat dan dunia ikut menjaga kelestarian subak di Bali dengan berbagai program dan kegiatan pelestarian

Sumber >> Bali Post, 13-08-2012

                  
  Catatan :


Kita semua telah tahu bahwa, Subak itu adalah merupakan suatu tata sistim pengairan/irigasi di Bali ( yang umumnya mereka tahu adalah subak basah, jarang mereka tahu bahwa ada juga subak Abian, untuk tanah kering/ kebun. Sebagai contoh di Desa Wisata Belimbing ada Subak Abian Swarna Pala di Banjar Dinas Durentaluh ). Subak itu sesungguhnya adalah sebuah organisasi yang punya pengurus dan anggauta, contohnya di Desa Wisata Belimbing, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, ada beberapa subak al : Subak Teben Telabah, Subak Mas, Subak Suradadi, Subak Durentaluh dsb.



Adapun susunan kepengurusan subak itu adalah :
1.      Pekaseh / Kelihan Subak  ( hampir sama dengan ketua)
2.      Juru Raksa / Petengen ( Bendahara )
3.      Juru Tulis  ( Sekretaris )
4.      Juru Arah/ Saya / Kesinoman ( orang yang bertugas mengasi tahu warga subak bila ada acara subak)
5.      Kelihan Tempek / Kelihan Munduk  ( sejenis seksi-seksi)
Alur koordinasi organisasi subak segala sesuatunya/ kebijakan harus sesuai dengan hasil rapat/ paum anggauta subak (seperti koperasi). ( Paruman/ Rapat Subak >  Prajuru ./ Pengurus Subak > Kerama / Anggauta Subak)        

       
Rute distribusi air subak di Bali :
1.    Dam/bendungan/empelan (bhs.Bali) > saluran air utama/telabah (bhs.Bali) > pembagian air/temuku (bhs.Bali) > konsumen/sawah anggauta subak (krama subak)
2.    Bila rute distribusi air dari bendungan sampai ke sawah-sawah para petani harus melewati suatu dataran tinggi/munduk (bhs Bali), maka harus dibuatkan terowongan air/aungan (bhs.Bali). Contohnya di Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, yang memakai sarana terowongan/aungan adalah Subak Suradadi.
Jadi dengan demikian rute distribusi airnya jadi sbb. ;
Dam/bendungan/empelan (bhs.Bali) > saluran air utama/telabah (bhs.Bali) > pembagian air/temuku (bhs.Bali) > konsumen/sawah anggauta subak (krama subak)


                                                                                
 
Satuan pembagian air sawah di Bali adalah : 
Tek-tek bukan Tēk-tēk 
 (para petani pakai air dengan sebutan : etek-tek, duang tek-tek, telung tek-tek, dst)
 

No comments:

Post a Comment